Showing posts with label Sirah Islam. Show all posts
Showing posts with label Sirah Islam. Show all posts

Saturday, 22 March 2014

Shaykh Abdul Qodir Al-Jailani, Sulthonul Awliya'

Syekh Abdul Qodir Al-Jailani ( Pemimpin Para Wali )



 

Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah, (bernama lengkap Muhyi al Din Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Al-Jailani). Lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M kota Baghdad sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata al Jailani atau al Kailani. Biografi beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab al Hambali. Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Bila dirunut ke atas dari nasabnya, beliau masih keturunan Rasulallah Muhammad SAW dari Hasan bin Ali ra, yaitu Abu Shalih Sayidi Muhammad Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah bin Yahya Az-zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Mahdi bin Hasan Al-Mutsana bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra.


Masa Muda
Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra’ dan juga Abu Sa’ad al Muharrimi. Belaiu menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa’ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasehat beliau. Banyak pula orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang menimba ilmu di sekolah beliau hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.


Murid-Murid
Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqh terkenal al Mughni.


Perkataan Ulama tentang Beliau

Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A’lamin Nubala XX/442).

Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, ”Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”

Beliau adalah seorang yang berilmu, beraqidah Ahlu Sunnah, dan mengikuti jalan Salaf al Shalih. Belaiau dikenal pula banyak memiliki karamah. Tetapi, banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, tariqah (tarekat/jalan) yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Di antaranya dapat diketahui dari pendapat Imam Ibnu Rajab.


Tentang Karamahnya
Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Ia banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi, ada seorang yang bernama al Muqri’ Abul Hasan asy Syathnufi al Mishri (nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab. Al Muqri' lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya).

"Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar", demikian kata Imam Ibnu Rajab. "Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan akal, kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah."


Di antara keramatnya menurut "Jami’u Karamatil Aulia" adalah sebagai berikut:
1. As-Siraj meriwayatkan bahawa pada suatu hari dalam tahun 521 H, Syeikh Abu Hassan bin Tamim bin Ahmad Al-Baghdadi, seorang pedagang, telah menemui Syeikh Hammad Ad-Dabbas, seraya mengatakan bahawa ia telah menyiapkan suatu kafilah untuk membawa barang dagangan ke Syam, seharga 700 dinar.

Syeikh Hammad menegaskan : "Jika mengadakan perjalanan dalam tahun ini, niscaya anda akan mati terbunuh dan barang- barang daganganmu habis dirampok orang."

Syeikh Abu Muzhaffar gusar mendengarnya, Ia pun segera menemui Syeikh Abdul Qadir Jailani, memberitahu halnya. Waktu itu Syeikh Abdul Qadir masih muda remaja.

Abdul Qadir berkata: "Berangkatlah, insya Allah anda dalam keadaan selamat dan pulang nanti akan memperoleh keuntungan."

Abu Muzahaffar pun berangkatlah dan ternyata dagangannya laris dan laku dengan nilai 1000 dinar. Beruntung tiga ratus dinar.

Pada suatu hari Abu Muzhaffar singgah di sebuah tempat pemerahan susu, untuk sesuatu urusan. Dia terlupa, wang yang 1000 dinar itu tertinggal di situ, terletak di atas sebuah rak.

Setelah pulang, ia pun tidur beristirahat dan bermimpi beberapa orang Arab dalam satu kafilah, mengeroyoknya dan menganiayanya dengan lembing. Ketika tersentak, masih terasa sakitnya dan bekas darah jelas kelihatan dilehernya. Waktu itu dia teringat kepada wang 1000 dinar yang tertinggal tadi, lalu dicarinya kembali,. Ternyata wang itu didapatinya dalam keadaan utuh, tiada kurang satu sen pun.

Sesudah peristiwa itu, ia pun pulang ke Baghdad. Dalam perjalanan hatinya berkata "lebih baik berjumpa dahulu dengan Syeikh Hammad, kerana dia lebih tua, sedang Abdul Qadir masih muda walaupun ucapannya benar." la pun lalu menuju ke pekan, untuk menemuinya. Setelah berjumpa, Syeikh Hammad menyuruhnya supaya lebih dulu menemui Abdul Qadir, karena dia adalah orang yang dikasihi Allah dan telah mendoakannya sebanyak 17 kali, sehingga berkat doanya, ia telah diselamatkan Allah dari pembunuhan.

Mendengar petunjuk itu, ia pun pergi menemui Abdul Qadir. Dan setelah bertemu, Abdul Qadir lebih dahulu berkata: "Menurut Syeikh Hammad 17 kali, tetapi sebenarnya aku mendoakanmu 17 kali dan 17 kali, sampai apa yang anda alami itu terjadi."


2. Imam Al-Yafi'i berkata : Diriwayatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir pada suatu hari, meminta barang titipan kepada seorang yang menyimpannya, karena pemiliknya tidak dapat datang mengambilnya. Orang yang menyimpan barang itu menolak, tidak mau menyerahkannya seraya berkata : "Jika sekiranya aku meminta kepadamu dalam perkara seperti ini, tentu anda pun tidak akan mau memberikannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya, karena anda bukan pemiliknya."

Tiada lama sesudah ucapan itu, tibalah sepucuk surat pemiliknya ketangannya, menyatakan supaya barang titipan itu diserahkan kepada Syeikh Abdul Qadir, untuk disalurkannya kepada fakir miskin.

Maka barang itu pun diserahkannya kepada Syeikh Abdul Qadir. Beliau mengecamnya sedangkan Allah telah merelakannya.


3. Imam Sya 'rani menyatakan bahwa di antara keramatnya, pada suatu hari is mengambil wudluk. Tiba-tiba seekor burung layang-layang mengencinginya dari atas. Ia pun menoleh ke atas dengan mengangkatkan kepalanya, maka seketika itu juga burung itu terjatuh dan mati. Pakaian yang kena najis itu pun di cucinya kemudian dijualnya dan harganya disedekahkannya.


4. Setelah namanya makin terkenal ke seluruh dunia, maka pada suatu hari berkumpullah 100 orang alim-ulama dan cerdik pandai di Baghdad, hendak menguji ilmu pengetahuannya. Masing-masing telah menyiapkan sejumlah pertanyaan yang akan diajukan kepadanya. Setelah masing-masing mengambil tempat duduk, Syeikh Abdul Qadir diam menundukkan kepalanya, tiada bercakap sepatah pun. Tiba-tiba memancar cahaya sekilas dari dadanya, menembus ke dada hadirin, sehinggn semua pertanyaan.yang akan diajukan tadi, terhapus hilang lenyap dari dada masing-masing. Suasana majlis itu menjadi kalang-kabut, karena mereka menjerit jerit, sambil mengoyak ngoyak baju dan membuangkan kopiah.

Sesudah itu, beliau pun duduk di atas sebuah kursi, siap untuk menjawab semua pertanyaan. Ternyata tiada satu. pun pertan yaan yang dapat diajukan. Dan setelah menyaksikan kenyataan itu, semua hadirin tunduk mengakui kebesaran dan ketinggian ilmu beliau.


5. Abu Al-Fatah Al-Harawi berkata : "Saya pernah menjadi pelayan Syeikh Abdul Qadir selama 40 tahun. Kulihat dia shalat subuh dengan wuduk isyak. Setiap batal, digantinya dengan wuduk baru, kemudian shalat dua rakaat. Selesai shalat isyak, beliau masuk ke ruangan khalwatnya, tiada seorang pun diperkenankan menemuinya. Dia baru keluar dari situ ketika terbit fajar."6. Kata Al-Harawi lagi : "Pada suatu malam, aku menginap dirumahnya. Pada awal malam; kulihat dia shalat sekejap kemudian berdzikir sampai sepertiga malam pertama, lalu mengucapkan:

"Tuhanlah yang meliputi yang empunya, yang menyaksikan, yang memperhitungkan, yang berbuat, yang amat menciptai, yang mencipta, yang melepaskan, yang menggambarka"


Sesudah mengucapkan kalimat itu, kulihat tubuhnya beransur-ansur kecil kemudian membesar, sesudah itu naik ke udara, sampai lenyap dari pemandanganku.

Pada bahagian kedua dari malam, beliau shalat dan membaca Qur'an sampai pada bahagian ketiga malam. Sujudnya lama sekali, kemudian duduk tafakkur, bertawajjuh menghadap Allah sampai menjelang terbit fajar. Sesudah itu mendoa dengan rendah hati dan tawaduk. Kulihat cahaya mengelilinginya, sampai hilang dari pemandangan.

Kudengar disisinya suara yang mengucapkan: "Salamun 'alaikum, salamun 'alaikum".Dia menjawab salam itu sampai ke luar untuk mengerjakan shalat subuh.


7. Di antara keramatnya, beliau pernah menyatakan bahwa pada suatu hari, ia bertemu dengan Nabi Khidir. Beliau tidak mengenalnya. Nabi Khidir membuat syarat, bahwa beliau tidak boleh menyalahi perintahnya.

Nabi Khidir berkata kepadaku : "Duduk di sini!" Aku pun duduklah di tempat yang ditunjuknya itu selama tiga tahun. Setahun sekali dia datang dan memerintahkan supaya aku tetap duduk di tempat itu sampai dia datang pula pada kali yang lain."

Selanjutnya Syeikh Abdul Qadir menyatakan : "Aku pernah tinggal dicelah-celah puing kota Madain, untuk beribadah dengan sungguh-sungguh. Aku memakan anggur yang diperah dan tidak minum. Kemudian setahun aku minum air tidak memakan anggur. Dan pada tahun berikutnya aku tidak makan dan tidak minum dan tidak tidur.

Pada suatu malam yang amat dingin, aku tertidur dan bermimpi bersetubuh. Aku pun mandi wajib. Kemudian tidur pula dan bermimpi lagi. Aku pun mandi pula. Kemudian tidur dan bermimpi lagi, dan mandi pula. Malam itu aku bermimpi bersetubuh sampai 40 kali dan mandi 40 kali.

Sesudah itu aku pun naik ke satu jenjang istana Kaisar, dengan harapan tidak akan tidur lagi. Aku pun fana, tenggelam dalam 1001 ilmu dan rahasia kebesaran Allah, sampai aku beristirahat dari dunia kamu ini ."

8. Ibnu Al-Akhdlar berkata : "Pada suatu hari musim dingin, kami mengunjungi Syeikh Abdul Qadir. Walaupun cuaca amat dingin, beliau hanya memakai sehelai baju dan kopiah. Keringat membahasi seluruh tubuhnya. Beberapa orang mengipas-ngipasnya. Keadaannya seperti berada di musim panas yang amat sangat."


9. Beliau pernah menceritakan halnya, dengan berkata : "Aku pernah mengembara selama 25 tahun ke berbagai negara Selama dalam perjalanan aku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan meminum air sungai. Dan dapat menahan diri tidak minum selama setahun. Allah mengurniaiku kata-kata "kun" (jadilah). Apabila kata "kun" itu ku ucapkan, maka apa yang aku ingini, tercapai. Ku dapati hidangan yang tersedia, maka aku pun memakannya dengan sepuas-puasnya. Dengan "kun" itu, gunung bisa ku belah menjadi kue, lalu ku makan. Pasir bisa menjadi gula, ku taruhkan pasir itu dalam gelas, dan ku tuangkan air laut ke dalamnya, lalu ku minum. Semuanya sudah ku tinggalkan, kerana malu kepada Allah."


10. AI-Manawi berkata : "Di antara keramatnya, ketika masih bayi, tidak mau menyusu kepada ibunya, pada siang Ramadhan. Orang banyak yang ingin mengetahui awal bulan, bertanya kepalanya. Dan seumur hidupnya, lalat tidak pernah menjatuhkan kotoran kepadanya."


11. Pada suatu hari, seorang wanita menyerahkan anaknya kepada beliau untuk dididik, dengan mengatakan : "Aku perhatikan, anakku ini sangat tertarik kepada tuan. Sekarang, dia ku serahkan kepada tuan."

Beliau pun menerimanya dengan segala senang hati, dan mendidiknya dengan sungguh-sungguh mengamalkan thariqat ini. Beberapa waktu kemudian, ibunya datang menjenguk. Dilihatnya badan anaknya kurus-kering, mukanya pucat, akibat kurang makan dan tidur. Ia hanya memakan sepotong roti dari tepung gandum.

la sangat kasihan dan sedih melihat keadaan anaknya, lalu segera menemui Syekh Abdul Qadir. Dilihatnya beliau sedang memakan daging ayam. Lantas ia pun berkata : "Wahai tuan, anda memakan ayam, sedangkan anakku memakan roti?"

Beliau pun meletakkan tangannya ke tulang-tulang ayam itu seraya berkata : "Bangkitlah dengan idzin Allah!" Maka ayam itu pun bangkit, hidup kembali sebagaimana semula.

Sesudah itu, beliau pun berkata : "Nah, apabila anakmu itu sudah bisa berbuat seperti ini, maka dia bolehlah memakan apa saja yang disukainya."


12. Pada suatu hari seekor burung elang terbang di atas majlis Syekh Abdul Qadir. Burung itu berkicau dengan kuatnya, sehingga mengganggu hadirin. Beliau pun berkata: "Wahai angin, ambil kepala burung itu." Maka burung itu pun terjatuh ke tanah, kepalanya terpisah dari tubuhnya, masing-masing tercampak ke satu sudut. Beliau pun turun dari atas kerusinya, mengambil bangkai burung tadi dan mengusap-ngusapnya, dengan mengucapkan "bismillahir rahmanir rahim". Seketika itu juga burung itu hidup kembali.


13. Keramatnya yang lain menurut suatu riwayat, pada suatu hari tiga orang pekerja naik kuda melintasi beliau. Mereka membawa sejumlah minuman keras untuk Raja.

Syeikh Abdul Qadir menyuruh mereka supaya berhenti, tetapi mereka tidak memperdulikannya. Lantas beliau memerintahkan kepada kuda yang membawa mereka, supaya berhenti. Kuda itu pun berhenti, dan Syeikh Abdul Qadir mengambil minum keras itu dan menahan mereka. Mereka merasa kecut dan cemas. Syeikh Abdul Qadir menyatakan, arak itu sudah menjadi cuka. Maka mereka pun membukanya, ternyata apa yang dikatakan beliau itu, benar dan tepat.


14. Pada suatu hari beberapa orang wanita yang menentangnya, datang mengunjungi Syeikh Abdul Qadir, dengan membawa dua buah peti yang berkunci rapat. Mereka berkata : "Cuba teka apa isi peti ini."

Beliau berkata : "Didalamnya ada seorang bayi sedang duduk."

Ketika peti dibuka, ternyata apa yang dikatakan beliau itu adalah benar. Kemudian wanita-wanita itu menunjuk ke peti yang sebuah lagi, menanyakan apa pula isinya.

Syeikh Abdul Qadir menjawab : "Isinya, seorang bayi yang sehat, tidak terkena penyakit sampar." Ketika di buka, ternyata benar didalamnya seorang bayi yang sehat segar-bugar. Beliau memegang ubun-ubunnya, seraya berkata: "Duduklah." Maka bayi mungil itu pun duduk. Melihat kenyataan ini, maka mereka pun tobat, minta ampun, tidak mau lagi melawannya. Tiga orang di antara hadirin ketika itu mati.


15. Seorang laki-laki dari Baghdad menemuinya seraya berkata "Anak perempuanku telah disambar jin." Syeikh Abdul Qadir menyuruhnya pergi ke suatu tempat, dan supaya melingkari tempat itu dengan tulisan "bismillah 'ala niati Abdul Qadir". Orang itu pun melakukan semua itu. Maka sejumlah jin berdatangan melintasi lingkaran sampai Raja mereka tiba. Raja jin itu tegak di pinggir garis lingkaran tadi, seraya bertanya "Apa keperluanmu?"

Laki-laki itu pun menerangkan tentang anak perempuannya disambar jin tadi. Ketika itu juga Raja jin, menghadapkan si penyambar tadi kehadapannya dengan memukul pundaknya.Orang itu pun berkata kepada Raja jin : "Aku belum pernah melihat kepatuhan orang kepada Syeikh Abdul Qadir, seperti kepatuhanmu ini."

Raja jin itu pun menjawab : "Benar, dia melihat keadaan kami dari rumahnya, walaupun kami tinggal di ujung bumi. Mereka berlarian daripadanya karena kehebatannya."


16. Keramatnya yang lain, pada suatu hari beberapa sahabatnya menghadap beliau. Seorang diantaranya tak bisa buang air kecil. Akibatnya dia gelisah menahannya, sehingga mempengaruhi sikap dan gerak-geriknya. Dia menoleh kepada Syeikh Abdul Qadir, seolah-olah minta tolong. Beliau pun turun dari atas tempat duduknya, berhenti di satu tingkatan. Tiba-tiba muncul di atas kepalanya sebuah kepala manusia, seperti kepalanya. Kemudian turun ke satu tingkat lagi, maka muncul pula sebuah kepala yang sama. Kemudian turun ke tingkat bawah, muncul pula dua pundak dan dada. Setiap turun muncul sesuatu, akhirnya nampaklah duduk di atas kursi itu seorang laki-laki yang menyerupainya. Dia bercakap-cakap seperti percakapan Syeikh Abdul Qadir.

Beliau pun bangkit lalu menutupi wajah laki-laki itu dengan lengan bajunya. Tiba-tiba saja orang itu sudah berada di suatu padang pasir, di situ terdapat sebuah sungai dan ditepinya tumbuh sepohon kayu. Dalam keadaan seperti itu, hilanglah penyakit yang dialaminya. Ia pun mengambil wuduk di sungai tadi kemudian shalat. Tatkala memberi salam, Syeikh Abdul Qadir membuangkan tutup kepalanya. Tiba-tiba saja dia sudah berada kembali di majlis itu, sedangkan beliau duduk di atas kursi seperti semula.


Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal Ja’far al Adfwi (nama lengkapnya Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab Syafi’i. Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al Kamal menyebutkan bahwa asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.(Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah as Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa'dah 1415 H / 8 April 1995 M.).

Karya

Imam Ibnu Rajab juga berkata, ”Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah."


Karya beliau, antara lain :
   1. al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,

   2. Futuhul Ghaib.

Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.


Beberapa Ajaran Beliau
Sam’ani berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Ia seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, ”Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi“.

Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidah beliau ( Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani ) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Ia menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Ia juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.)

Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam bishshawwab.


Awal Kemasyhuran

Al-Jaba’i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir pernah berkata kepadanya, “Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor hingga memenuhi tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum]].

Kemudian, Syeikh Abdul Qadir melanjutkan, “Aku melihat Rasulallah SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, "anakku, mengapa engkau tidak berbicara?". Aku menjawab, "Ayahku, bagaimana aku yang non arab ini berbicara di depan orang-orang fasih dari Baghdad?". Ia berkata, "buka mulutmu". Lalu, beliau meniup 7 kali ke dalam mulutku kemudian berkata, ”bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik”. Setelah itu, aku shalat dzuhur dan duduk serta mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya sehingga membuatku gemetar. Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, "buka mulutmu". Ia lalu meniup 6 kali ke dalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meniup 7 kali seperti yang dilakukan Rasulallah SAW, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada Rasulallah SAW. Kemudian, aku berkata, "Pikiran, sang penyelam yang mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada , dilelang oleh lidah sang calo, kemudian dibeli dengan permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan Allah untuk diangkat”. Ia kemudian menyitir, "Dan untuk wanita seperti Laila, seorang pria dapat membunuh dirinya dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis."

Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu" jawab suara itu.

Aku pun membuat 70 perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.


Beberapa Kejadian Penting
Suatu ketika, saat aku berceramah aku melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku. "Apa ini dan ada apa?" tanyaku. "Rasulallah SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat" jawab sebuah suara. Sinar tersebut semakin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi spiritual yang membuatku setengah sadar. Lalu, aku melihat Rasulallah SAW di depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, "Wahai Abdul Qadir". Begitu gembiranya aku dengan kedatangan Rasalullah SAW, aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Ia meniup ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meniup ke dalam mulutku 3 kali. "Mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan Rasulallah SAW?" tanyaku kepadanya. "Sebagai rasa hormatku kepada Rasalullah SAW" jawab beliau.

Rasulallah SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepadaku. "apa ini?" tanyaku. "Ini" jawab Rasulallah, "adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad Qutb dalam jenjang kewalian". Setelah itu, aku pun tercerahkan dan mulai berceramah.

Saat Nabi Khidir As. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Allah membukakan rahasianya dan apa yang akan dikatakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku, "Engkau tidak akan sabar kepadaku", aku akan berkata kepadamu, "Engkau tidak akan sabar kepadaku". "Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini Muhammad dan yang ini ar Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus.”

Al-Khattab pelayan Syeikh Abdul Qadir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan oleh kaum Muhammad” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas Al-Khidir As lewat dan aku pun berbicara kepadanya seperti yang kalian dengar tadi dan ia berhenti”.


Hubungan Guru dan Murid

Guru dan teladan kita Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.

   1. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).

   2. Dua karakter dari Rasulullah SAW yaitu penyayang dan lembut.

   3. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.

   4. Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar.

   5. Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.

   6. Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.

Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepada beliau dikatakan:

Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.

Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat dzahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah.

Syeikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syeikh al Junaid mengajarkan standar al Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang syeikh. Apabila ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas untuk diikuti.

Menurut saya (penulis buku) yang harus dimiliki seorang syeikh ketika mendidik seseorang adalah dia menerima si murid untuk Allah, bukan untuk dirinya atau alasan lainnya. Selalu menasihati muridnya, mengawasi muridnya dengan pandangan kasih. Lemah lembut kepada muridnya saat sang murid tidak mampu menyelesaikan riyadhah. Dia juga harus mendidik si murid bagaikan anak sendiri dan orang tua penuh dengan kasih dan kelemahlembutan dalam mendidik anaknya. Oleh karena itu, dia selalu memberikan yang paling mudah kepada si murid dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. Dan setelah sang murid bersumpah untuk bertobat dan selalu taat kepada Allah baru sang syaikh memberikan yang lebih berat kepadanya. Sesungguhnya bai’at bersumber dari hadits Rasulullah SAW ketika beliau mengambil bai’at para sahabatnya.

Kemudian dia harus mentalqin si murid dengan zikir lengkap dengan silsilahnya. Sesungguhnya Ali ra. bertanya kepada Rasulallah SAW, "Wahai Rasulallah, jalan manakah yang terdekat untuk sampai kepada Allah, paling mudah bagi hambanya dan paling afdhal di sisi-Nya. Rasulallah berkata, "Ali, hendaknya jangan putus berzikir (mengingat) kepada Allah dalam khalwat (kontemplasinya)". Kemudian, Ali ra. kembali berkata, "Hanya demikiankah fadhilah zikir, sedangkan semua orang berzikir". Rasulullah berkata, "Tidak hanya itu wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi di muka bumi ini selama masih ada orang yang mengucapkan 'Allah', 'Allah'. "Bagaimana aku berzikir?" tanya Ali. Rasulallah bersabda, "Dengarkan apa yang aku ucapkan. Aku akan mengucapkannya sebanyak tiga kali dan aku akan mendengarkan engkau mengulanginya sebanyak tiga kali pula". Lalu, Rasulallah berkata, “Laa Ilaaha Illallah” sebanyak tiga kali dengan mata terpejam dan suara keras. Ucapan tersebut di ulang oleh Ali dengan cara yang sama seperti yang Rasulullah lakukan. Inilah asal talqin kalimat Laa Ilaaha Illallah. Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita dengan kalimat tersebut.

Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut”.

Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).


Lain-Lain
Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasulullah shollallahu’alaihi wasalam, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan di sisi Allah oleh manusia manapun. Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka, berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. Ini juga merupakan kesesatan. Menjadikan orang yang meninggal sebagai perantara, maka tidak ada syari’atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah. Allah melarang mahluknya berdo’a kepada selain Allah. "Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jin: 18)"

Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para ‘ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari’ah. Akhirnya mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga tidak tersesat dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Syeikh Abdul Qadir juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah. 

Thursday, 23 January 2014

Siti Muthi'ah, Wanita Pertama Masuk Syurga

SUATU hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelah Ummahatul Mukminin  setelah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.
Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum ya ahlil bait.” Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, “Wa’alaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad SAW.” Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”
Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.
“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”
Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”
Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.
Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.
Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.
Semakin galau hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu’ kepada suaminya.
Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.
Dalam kondisi seperti itu, Mutiah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap-siap menyambutnya. Subhanallah, kita merindukan istri yang demikian. Yaitu ketika suami pulang kerja dia berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi, sudah berdandan, sudah memakai pakaian yang bagus, dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang. Ya Allah, jadikanlah istri-istri kami seperti Mutiah.
Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah. Dan pada hari yang keempat, Fatimah datang kembali ke rumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada di rumah atau sudah pulang dari kerja. Dan Alhamdulillah memang pada saat Fatimah datang, suami Mutiah baru saja sampai di rumah pulang dari kerja.
Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya ke rumahnya. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan yang dihadapinya sejak hari pertama. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang bersih untuk suaminya, sambil menuntun suaminya ke kamar mandi. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya, dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi. Dan yang dilakukan oleh Mutiah adalah memandikan suaminya. Subhanallah… Tsumma Subhanallah.
Selesai memandikan suaminya, Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke tempat makan. Dan suaminya sudah disiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya seharian. Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan.
“Wahai suamiku, seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepanmu. Sekiranya engkau tidak menyukai dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat, maka cambuklah diriku.”
Tanpa bertanya apa-apa, Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW. tentang wanita pertama penghuni surga setelah para istri Nabi yaitu Mutiah.
Fatimah pulang menangis haru dan bahagia karena sudah mendapatkan jawaban bagaimana istri yang sholihah. Seperti yang ada pada diri Mutiah, yang mendapatkan kehormatan sebagai wanita yang paling dahulu memasuki surga Allah SWT.

Tuesday, 24 December 2013

Biografi Nabi Khidir 'Alaihissalam

BIOGRAFI NABI KHIDHIR AS.

Daftar Isi:

1)      Asal-usul Khidhir As.
2)      Kisah Khidhir As. dengan Musa As.
a.       Teguran Allah kepada Musa As.
b.      Persyaratan belajar
3)      Hikmah Kisah Khidhir As.
4)      Mencari Khidhir As.
5)      Hidup dan Wafat Khidhir As.
6)      Usia Khidhir As.
7)      Doa Khidhir As. (Doa Tolak Bala)
8)      Catatan kaki


1)      Asal-usul Khidhir As.

Al-Khiḍhr (Arab: لخضرا, Khaḍhr, Khaḍhir, Khiḍhir) adalah seorang nabi misterius yang dituturkan oleh Allah Swt. dalam al-Qur'an Surat al-Kahfi ayat 65-82. Selain kisah tentang Nabi Khidhir As. yang mengajarkan tentang ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa As., asal-usul dan kisah lainnya tentang Nabi Khidhir As. tidak banyak disebutkan.

Dalam buku berjudul “Mystical Dimensions of Islam”, Annemarie Schimmel menyebutkan bahwa Nabi Khidhir As. dianggap sebagai salah satu nabi dari empat nabi ‘Sosok yang tetap Hidup’ atau ‘Abadi’. Tiga lainnya adalah Idris (Henokh), Ilyas (Elia), dand Isa (Yesus).[1] 

Nabi Khidhir As. abadi karena ia dianggap telah meminum air kehidupan. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Nabi Khidhir As. adalah masih sama dengan seseorang yang bernama Elia.[2] 

Nabi Khidhir As. juga diidentifikasikan sebagai St. George.[3] Diantara pendapat awal para cendikiawan Barat, Rodwell menyatakan bahwa: “Karakter Khidhir dibentuk dari Yitro.[4]

Dalam kisah literatur Islam, satu orang bisa bermacam-macam sebutan nama dan julukan yang telah disandang oleh Nabi Khidhir As. Beberapa orang mengatakan Khidhir adalah gelarnya; yang lainnya menganggapnya sebagai nama julukan.[5] 

Nabi Khidhir As. telah disamakan dengan St. George, dikenal sebagai “Elia versi Muslim” dan juga dihubungkan dengan Pengembara abadi.[6] Para cendikiawan telah menganggapnya dan mengkarakterkan sosoknya sebagai orang suci, nabi, pembimbing nabi yang misterius dan lain lain.

Al-Khiḍhr secara harfiah berarti “Seseorang yang Hijau” melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.”

Dalam situs Encyclopædia Britannica, dikatakan bahwa Nabi Khidhir As. telah diberikan sebuah nama, yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān.[7]

Nabi Khidhir As. adalah sepupu Dzul Qarnain (Raja Zulkarnain) dari pihak ibu.[8] Menurut Ibnu Abbas, Nabi Khidhir As. adalah seorang anak cucu Nabi Adam As. yang taat beribadah kepada Allah dan ditangguhkan ajalnya.[9] Ibunya berasal dari Romawi sedangkan bapaknya keturunan bangsa Parsi.[10]

Kemudian Mahmud al-Alusi menambahkan bahwa ia tidak membenarkan semua pendapat mengenai riwayat asal-usul Nabi Khidhir As., tetapi an-Nawawi mengatakan bahwa ia adalah seorang putra raja.[11]


2)      Kisah Khidhir As. dengan Nabi Musa As.

a.      Teguran Allah kepada Musa As.

Kisah Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As. dituturkan oleh al-Qur'an dalam Surat al-Kahfi ayat 65-82. Menurut Ibnu AbbasUbay bin Ka'ab menceritakan bahwa beliau mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya: “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa: “Aku”. Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firmanNya: “Sesungguhnya di sisiKu ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”

Lantas Musa pun bertanya: “Wahai Tuhanku, di manakah aku dapat menemuinya?”

Allah pun berfirman: “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hambaKu itu.”

Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa As. untuk menemui hamba yang shalih itu. Disamping itu, Nabi Musa As. juga ingin sekali mempelajari ilmu dari hamba Allah yang shalih tersebut.

Nabi Musa As. kemudiannya menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.

Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah Swt. membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.

Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya' tertidur dan ketika terjaga beliau lupa untuk menceritakannya kepada Nabi Musa As. Mereka kemudiannya meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya.

“Nabi Musa berkata kepada Yusya`: “Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (QS. al-Kahfi ayat 62)

Ibn `Abbas Ra. berkata: “Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hambaNya yang lebih berilmu itu.”
Yusya’ berkata kepada Nabi Musa As.: “Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh.” (QS. al-Kahfi ayat 63)

Nabi Musa As. segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, keduanya berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan.

Musa berkata: “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (QS. al-Kahfi ayat 64)

Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Nabi Musa As. dengan Nabi Khidhir As. Ada yang mengatakan bahawa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Parsia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Disamping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.


b.      Persyaratan belajar

Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa As. pun mengucapkan salam kepadanya. Nabi Khidhir As. menjawab salamnya dan bertanya: “Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan. Siapakah kamu?”

Jawab Nabi Musa As.: “Aku adalah Musa.”

Nabi Khidhir As. bertanya lagi: “Musa dari Bani Isra’il?”

Nabi Musa As. menjawab: “Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan.”

Nabi Khidhir As. menegaskan: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (QS. al-Kahfi ayat 67). “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebagian daripada karunia Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.”

Nabi Musa berkata: “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (QS. al-Kahfi ayat 69).

Dia (Khidhir) selanjutnya mengingatkan: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (QS. al-Kahfi ayat 70).



c.       Perjalanan Khidr As. dan Musa As.

Demikianlah seterusnya Musa mengikuti Khidhir dan terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Musa yang telah berjanji bahwa ia tidak akan bertanya tentang sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidhir As. Setiap tindakan Nabi Khidhir As. itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa As. terperanjat.

Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidhir As. menghancurkan perahu yang ditumpangi bersama. Nabi Musa As. tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khidhir As. Nabi Khidhir As. memperingatkan janji Nabi Musa As., dan akhirnya Nabi Musa As. meminta maaf karena kelancangannya mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi Khidhir As.

Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidhir As. membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidhir As. tersebut membuat Nabi Musa As. tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidhir As. Nabi Khidhir As. kembali mengingatkan janji Nabi Musa As., dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidhir As., jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa As. harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidhir As.

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di suatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa As. merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidhir As. malah menyuruh Nabi Musa As. untuk bersama-sama memperbaiki tembok rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa As. tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidhir As. ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk mendzalimi mereka. Akhirnya Nabi Khidhir As. menegaskan pada Nabi Musa As. bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa As. untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa As. tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khidhir As.

Selanjutnya Nabi Khidhir As. menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa As. bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khidhir As. menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.

Kejadian yang kedua, Nabi Khidhir As. menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.

Kejadian yang ketiga, Nabi Khidhir As. menjelaskan bahwa tembok rumah yang diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Di dalam rumah tersebut tersimpan harta karun yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Dipercaya tempat tersebut berada di negeri AntakyaTurki.

Akhirnya Nabi Musa As. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidhir As. Akhirya mengerti pula Nabi Musa As. dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah Swt. dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Ilmu ini diberikan oleh Allah Swt. kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Nabi Khidhir As. yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa As. dan Nabi Musa As. menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.

Saat mereka di dalam perahu yang ditumpangi, datanglah seekor burung lalu hinggap di ujung perahu itu. Burung itu meneguk air dengan paruhnya, lalu Nabi Khidhir As. berkata: “Ilmuku dan ilmumu tidak berbanding dengan ilmu Allah, Ilmu Allah tidak akan pernah berkurang seperti air laut ini karena diteguk sedikit airnya oleh burung ini.”

Sebelum berpisah, Nabi Khidhir As. berpesan kepada Nabi Musa As.: “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan, wahai Ibnu `Imran.”


3)      Hikmah kisah Khidhir As.

Dari kisah Nabi Khidhir As. ini kita dapat mengambil pelajaran penting. Diantaranya adalah Ilmu merupakan karunia Allah Swt., tidak ada seorang manusia pun yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang lainnya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugerah dari Allah Swt. yang diberikan kepada seseorang tanpa harus mempelajarinya (ilmu ladunni, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shalih dan terpilih).

Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami.

Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak di luar perintah dari guru. Kisah Nabi Khidhir As. ini juga menunjukkan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada guru.


4)      Mencari Khidhir As.

Kedatangan dan pertemuan dengan Nabi Khidhir As. memang tidak bisa dijadwalkan. Ia datang tak diundang, pergi pun sesuka hatinya. Dia hadir jika ada yang membutuhkan dengan niat tulus dan terkadang kedatangannya untuk menyadarkan orang yang didatangi.

Seperti yang dialami oleh raja besar di Balkha. Raja ini merupakan raja yang kaya raya juga banyak pengawalnya. Suatu malam sang raja dikejutkan oleh suara di atas atap rumah. Ketika ditanya orang yang berada di atas itu menjawab bahwa dia sedang mencari untanya yang hilang. Seketika sang raja mengatakan aneh, sebab mencari unta di atas atap. Tetapi laki-laki itu malah menjawab kelakuan sang raja lebih aneh lagi sebab mencari ridha Allah kok berbalut dengan kemewahan.

Begitu pula saat sang raja mengadakan sidang bersama para punggawanya, tiba-tiba datang seorang laki-laki tanpa permisi. Ketika ditanya apa keperluannya, sang laki-laki itu mengatakan bahwa istana ini hanya peristirahatan para kafilah. Tentu saja sang raja marah sebab istana disebut sebagai tempat peristirahatan.

“Ini bukan persinggahan para kafilah yang kelelahan. Ini adalah istanaku”, bentak sang raja merasa terhina.

“Istanamu? Sebelum engkau, siapa yang menempatinya?”
 “Bapakku”
 “Sebelum bapakmu, siapa yang punya?”
 “Kakekku”
 “Sebelum kakekmu?”
 “Bapak dari kakekku.”
 “Sekarang mereka berada di mana?”
 “Mereka sudah meninggal dunia”
 “Berarti tepat dan benar tempat ini adalah persinggahan sementara saja. Nanti sebentar lagi engkau juga akan meninggalkannya.”

Kemudian orang itu hilang. Ternyata orang itu tidak lain adalah Nabi Khidhir As. yang datang memberi nasehat agar menyadarkan bahwa kehidupan dunia itu fana belaka, bukan tujuan utama setiap manusia beriman.

Nabi Khidhir As. bak harta karun terpendam yang banyak diburu oleh banyak orang dengan berbagai macam keperluan dan keinginan. Seperti yang dialami oleh tiga bersaudara (Ubai, Ammar dan Khafid) ketiganya merupakan dari keluarga miskin. Tekad mereka adalah ingin bertemu dengan Nabi Khidhir As., tujuannya tidak lain meminta Nabi Khidhir As. mendoakan agar mereka dapat hidup layak.

Ketiganya mendatangi Masjidil Haram, sebab pada hari “Haji Akbar” Nabi Khidhir As. berada di sana. Setiap orang dijabattangani, menurut keyakinan jempolnya Nabi Khidhir As. itu empuk seperti kapas.

Setelah ketemu dengan Nabi Khidhir As. mereka bertiga menyampaikan tujuannya masing-masing. Ubai meminta didoakan supaya menjadi orang kaya, Ammar menjadi seorang raja sedangkan Khafid agar menjadi orang alim. Nabi Khidhir As. pun berkenan mendoakan setelah mereka dijanji supaya tidak lupa dengan kewajibannya jika kelak mereka berhasil cita-citanya.

Bertiganya berhasil sesuai harapan awalnya. Ubai menjadi kaya, Ammar menjadi seorang raja, dan Khafid menjadi orang alim yang mempunyai banyak santri.

Namun, Ubai menjadi sombong dan congkak terhadap orang-orang miskin. Ammar pun menjadi raja yang sewenang-wenang. Maka Nabi Khidhir As. perlu menyadarkan keduannya, tetapi kedatangannya malah disia-siakan oleh keduanya. Berkat doa’a Nabi Khidhir As. keduanya kembali ke kehidupan semula: menjadi miskin dan sengsara. Hanya Khafid yang lurus dengan janjinya.

Cerita Nabi Khidhir As. ini menjadi bahan renungan sekaligus tamparan kepada kita di realita kehidupan. Sosok wali, orang yang berkaromah terkadang hanya dimanfaatkan oleh kepentingan duniawi. Doanya hanya dimanfaatkan untuk meraih sesuatu yang sementara dan fana.

Merangkak-rangkak kita meminta didoakan supaya terkabul segala hajat namun setelah berhasil kita lupa dengan janji semuanya. Inilah realita bagaimana agama, wali, bahkan ayat-ayat al-Qur’an terkadang hanya dimanfaatkan hanya untuk memburu kemewahan dunia. Padahal kehadirannya (agama, wali, nabi dan kitab suci) tidak lain sebagai pembawa kabar gembira sekalipun peringatan (basyiiran wa nadziiran). [12]


5)      Hidup dan Wafat Khidhir As.

Memang benar, bahwa Nabi Khidhir As. adalah seorang nabi dan masih hidup sampai sekarang. Hal ini terbukti dari salah satu hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Nabi Khidhir As. dan Nabi Ilyas punya agenda khusus setiap tahun sampai kelak datangnya hari kiamat. Ada empat nabi yang masih hidup sampai sekarang; dua berada di bumi yaitu Nabi Khidhir As. dan Nabi Ilyas As., dan dua lagi berada di langit yaitu Nabi Isa As. dan Nabi Idris As. [13]

Kalau sampai saat ini Nabi Khidhir As. dinyatakan masih hidup, kapankah beliau akan meninggal dunia? Menurut keterangan dari Imam al-Yafi’i menyebutkan bahwa Nabi Khidhir As. meminta kepada Allah agar dijemput ajalnya setelah al-Quran telah sirna di dunia ini. [14]


6)      Usia Khidhir As.

Adapun terkait dengan usia panjang Nabi Khidhir As. Imam ash-Shadiq Ra. mengatakan: “Adapun hamba Allah yang shaleh, Khidhir, Allah Swt. telah memanjangkan usianya bukan untuk risalahnya dan juga bukan untuk kitab yang diturunkan kepadanya atau dengan perantaranya dan syariatnya, kemudian menganulir (nasakh) syariat para nabi sebelumnya. Juga bukan karena imamah yang mengharuskan para hambaNya mengikutinya, juga bukan karena ketaatan yang diwajibkan Tuhan bagi para hamba kepadanya. Melainkan Allah Swt. Maha Pencipta, menghendaki usia Imam Qaim (Imam Mahdi) menjadi sangat panjang pada masa ghaibatnya dan mengetahui bahwa para hambaNya akan mempersoalkan dan mengkritisi usianya. Atas dasar itu, Allah Swt. memanjangkan usia hamba shalihNya (Khidhir) sehingga dengan usianya yang panjang itu dapat dijadikan sebagai bahan argumentasi dan diserupakan usia Imam Mahdi. Dengan demikian, kritikan dan objeksi para musuh dan orang-orang yang berpikir jahat dapat digugurkan.” [15]

Tanpa ragu Nabi Khidhir As. masih hidup dan sekarang ini berusia lebih dari enam ribu tahun. [16]


7)      Doa Khidhir As. (Doa Tolak Bala)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
دُ عَاء الفرَج لِسَيِّدِنَا الخِضِرْ عَلَيْهِ السَّلاَم

اَللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِى عَظَمَتِكَ دُونَ الَلُّطَفَاءِ وَعَلوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى الْعُظَمَاءِ، وَعَلِمْتَ مَاتَحْتَ أَرضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ، وَكَانَت وَسَاوسُ الصُّدُورِ كَاْلعَلاَ نِيَّة عِنْدَكَ ، وَعَلاَ نَّيِةُ اْلقَوْلِ كَالسِّر فِى عِلْمِكَ، وَانْقَادَ كُلُّ شَىْءٍ لِعَظَمَتِكَ، وَخَضَعَ كُلُّ ذِى سُلْطَانٍ لسُلْطَا نِكَ ، وَصَارَ أَمْرُ الدُّ نْيَا والاَخِرَةِ كُلُّه بِيَدِكَ. اِجْعَلْ لِى مِنْ كُلِ هَمٍ أَصْبَحْتُ أَوْ أَمْسَيْتُ فِيهِ فَرَجاً وَمَخرَ جاً. اللَّهُمَّ إِنَّ عَفَوَكَ عَنْ ذُنُوبِى،  وَتَجَاوزَكَ عَنْ خَطِيئتىِ، وَسِتْرِكَ عَلَى قَبِيحِ عَمَلِى، أَطْمَعي أَنْ أَسْأ لَكَ مَالاَ أَسْتَوْ جِبُهُ مِنْكَ مِمَّا قَصَّرْتُ فِيهِ، أَدْعُوكَ اَمِنَاً وَأَسْأَ لُكَ مُسْتَأ نِسَاً. وَإِنَّكَ الْمُحْسِنُ إِليَّ، وَأَنَا الْمُسِئُ إلَى نَفْسِي فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَكَ، تَتَوَدَدُ إِليَّ بِنِعْمَتِكَ وَأَتَبَغَّضُ إلَيْكَ بِالْمَعَاصِيِ وَلَكِنَّ الثَّقَةُ بِكَ حَمَلَتْنِي علَى الْجرَاءَةِ عَلَيْكَ فَعُدْ بِفَضْلِكَ وَإحْسِانِكَ عَلَي إِنَّكَ أَنْتَ التَّوابُ الَّرَحِيمُ وَصَلى الله ُعَلَى سَيِدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.

Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa alihi washahbihi wasallam. Allahumma kama lathafta fii a’dzamatika dunalluthafaa-i, wa ‘alauta bi a’dzamatika ‘alal ’udzamaa-i, wa ‘alimta ma tahta ardhika ka’ilmika bima fauqa ‘arsyika, wakanat wasawisushshuduri kal’alaniyyati ‘indaka wa ‘ala niyyatil qauli kassirri fi ‘ilmika wanqada kullu syai-in li ‘adzamatika wa khadha’a kullu dzi sulthanin li sulthanika. Washaara amruddunya wal akhirati kulluhu biyadika. Ij’al lii min kulli hammin ashbahtu au amsaitu fiihi farajan wa makhrajan. Allahumma inni ‘afawaka ‘an dzunubiy wa tajaawazaka ‘an khathi-athiy, wasitraka ‘ala qabihi a’maliy athmi’niy an as-aluka ma la astaujibuhu minka mimma qashshartu fihi. Ad’uka aminan wa as’aluka musta’nisan. Wa innakal muhsinu ilayya wa-analmusi’i ila nafsiy fima bainiy wa bainaka tatawaddadu ilayya bini’matika wa atabaghghadhu ilaika bilma’ashiy. Walakinnatstsaqaha bika hamalatniy ‘alal khara’ati ‘alaika fa’ud bifadhlika wa ihsanika ‘alayya innaka antattawaburrahiim. Washalallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wasallam.

“Wahai Allah, sebagaimana Engkau telah berlemah-lembut dalam KeagunganMu melebihi segenap kelembutan. Dan Engkau Maha Luhur dan KeagunganMu melebihi semua Keagungan. Dan Engkau Maha Mengetahui terhadap apa apa yang terjadi di bumi sebagaimana Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang terjadi di ‘ArsyMu. Dan semua yang telah terpendam merisaukan hati adalah jelas terlihat di hadapanMu. Dan segala yang terang-terangan diucapkan adalah rahasia yang terpendam dalam PengetahuanMu. Dan patuhlah segala sesuatu pada KeagunganMu. Dan tunduk segala penguasa di bawah KekuasaanMu. Maka jadilah segenap permasalahan dunia dan akhirat dalam GenggamanMu. Maka jadikanlah segala permasalahanku dan kesulitanku segera terselesaikan dan termudahkan pada pagiku atau soreku ini. Wahai Allah kumohon maafMu atas dosa-dosaku. Dan kumohon pengampunanMu atas kesalahan-kesalahanku. Dan kumohon tabir penutupMu dari keburukan amal-amalku. Berilah aku dan puaskan aku dari permohonanku yang sebenarnya tidak pantas diberikan padaKu karena kehinaanku. Kumohon padaMu keamanan dan kumohon padaMu kedamaian bersamaMu. Sungguh selalu berbuat baik padaku, sedangkan aku selalu berbuat buruk terhadap diriku atas hubunganku denganMu. Kau ulurkan cinta kasih sayang lembutMu padaku dengan kenikmatan-kenikmatanMu, sedangkan aku selalu memancing kemurkaanMu dengan perbuatan dosa. Namun kuatnya kepercayaanku padaMu membawaku untuk memberanikan diri lancang memohon padaMu. Maka kembalikanlah dengan AnugerahMu dan KebaikanMu padaku. Sungguh Engkau Maha Menerima hamba-hamba yang menyesal dan Engkau Maha Berkasih Sayang. Dan shalawat serta salam atas Sayyidina Muhammad serta keluarga dan limpahan salam. [17]


8)      Catatan kaki

1.      Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, (Chapel Hill: University of North Carolina Press. 1975), 202.
2.      “Muslim version of Elijah” George K. Anderson. The Legend of the Wandering Jew (Providence: Brown University Press. 1965), 409; Exhaustive material on Khidr’s resemblance with Elijah is presented in Friedlaenders “Khidr” in the Encyclopedia of Religion and Ethics (New York: Charles Scribner’s Sons, 1915), 693-95.
3.      Peter L. Wilson, “The Green Man: The Trickster Figure in Sufism”, in Gnosis Magazine 1991, 23.
4.      On Rodwell, see W.M. Thackston Jr. The Tales of the Prophets of al-Kisai (Boston: Twayne Publishers, 1978), xxiv.
5.      Alexander H. Krappe. The Science of Folklore (New York: Barnes and Noble Inc., 1930), 103.
6.      However, he refers to the Wandering Jew as Ahasver. See Haim Schwarzbaum. Biblical and Extra-Biblical Legends, 17.
9.      Kitab al-Ifrad karya Imam ad-Daruquthniy dan Ibnu ‘Asakir riwayat Ibnu Abbas.
10.  Fath al-Bari juz 6 halaman 310, al-Bidayah wa an-Nihayah juz 1 halaman 326, Ruh al-Ma'ani juz 17 halaman 319.
11.  Mahmud al-Alusi berkata: “Aku tidak membenarkan semua sumber yang menyatakan tentang riwayat asal-usul Khidhir. Tetapi an-Nawawi menyebutkan bahwa Khidhir adalah putera raja”. Fath al-Bari juz 6 halaman 390.
12.  Haji Lalu Ibrohim M.T, Mereka Memanggilku Khidir”, terbitan Pustaka Pesantren Yogyakarta tahun 2012.
13.  Lihat dalam kitab al-Fatawi al-Haditsiyah halaman 180 dan 307.
14.  Lihat dalam kitab al-Fatawi al-Haditsiyah halaman 322.
15.  Lihat dalam kitab Kamâl ad-Din jilid 3 halaman 357 dan dalam Bihâr al-Anwâr jilid 51 halaman 222.
16.  Lihat dalam kitab Yaum al-Khalâsh halaman 157.
17.  Ijazah al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa Pemimpin Majelis Rasulullah Saw. Jakarta.

Wallahu al-Musta’an


Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 14 Februari 2013