Monday, 8 July 2013

Huraian 20 Sifat Allah SWT

Editor              : Sya’roni As-Samfuriy
Penerbit         : PUSTAKA MUHIBBIN

صِفَة دُوا فُولُه
Disusun oleh Al-Habib 'Utsman bin 'Abdullah bin 'Aqil bin Yahya
Di Jakarta Tahun 1324 H
MUQADDIMAH

Segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam. Shalawat yang sempurna serta salam yang sempurna atas junjungan kita Nabi Muhammad dan atas keluarga serta para shahabatnya sekalian.

Ni’mat Islam dan ni’mat Iman adalah ni’mat yang sangat besar yang Allah berikan kepada ummat Islam. Keduanya adalah syarat untuk dapat memasuki syurga dengan kekal di dalamnya dan selamat dari siksa api neraka dengan berbuat taat kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka wajiblah atas tiap mukallaf (aqil baligh) bahwa ia mengetahui segala rukun Islam dan rukun iman agar ia bersyukur kepada Allah ta’ala dengan mengamalkan amalan-amalan keduanya yang hanya dapat diterima Allah bila kita memiliki ilmunya.
Rukun Islam yang pertama ialah mengucapkan dua kalimah syahadah. Ilmu tentang ma’na dua kalimah syahadah itulah yang disebut ushuluddin atau ilmu tauhid. Wajib bagi setiap mukallaf untuk mengenal Allah ‘azza wajalla dengan segala SifatNya yang wajib bagiNya dan yang mustahil padaNya, serta yang harus padaNya. Demikian pula yang wajib bagi para Rasul ’alaihimushshalatu wassalamu dan yang mustahil, serta yang harus. Adapun ilmu tentang rukun Islam yang lain termasuk ilmu fiqih, yang wajib atas tiap mukallaf mengetahuinya untuk kesempurnaan ibadah. Rasulullah Saw. bersabda: “Tiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya itu ditolak, tidak diterima.” Beliau Saw. juga bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas tiap muslim.”
Dalam kitab az-Zubad dikatakan: “Yang pertama kali wajib atas manusia ialah mengenal Allah dengan yaqin.” Dalam kitab Khuthbat al-Habib Thahir bin Husain dikatakan: “Ketahuilah wahai saudaraku bahwa ushuluddin ialah mengenal Yang disembah sebelum menyembah, dan itulah hakikat ma’na kalimah syahadah.”
Jika telah diketahui kewajiban ma’rifatullah ta’ala atas tiap mukallaf, maka diketahui olehmu bahwa ma’rifatullah adalah jazim (yang putus, yang tiada ragu lagi) dan mufaqah (sesuai) pada haq dengan dalil.[1] Adapun dalil adalah hal yang menunjukkan kebenaran suatu perkara. Sedangkan dalil wujudnya Allah ta’ala dengan segala SifatNya cukup dengan dalil ijmaly (keadaan langit, bumi, dan yang di antaranya). Firman Allah subhanahu wata’ala:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ
”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki ‘aqal.” (QS. Ali ‘Imran ayat 190)

BAB I. MACAM-MACAM HUKUM

A.   Hukum ‘Aqly

Hukum ‘Aqly ada tiga, yaitu:

1.    Wajib, artinya perkara yang tidak boleh tidak akan adanya bagi akal fikiran.

2.    Mustahil, artinya perkara yang tidak boleh tidak akan tiadanya bagi akal.

3.    Jaiz, artinya perkara yang adanya dan tiadanya dapat diterima akal.


B.   Hukum Syar’i

Hukum syar’i ialah perintah Allah ta’ala atas perbuatan mukallaf (yang diberatkan/yang diberi tanggung jawab), maka disebut perintah yang memberatkan (taklif) disebut juga sebagai perintah yang jelas, sebab ditentukan syaratnya atau sebabnya.

Hukum syar’i ada tujuh, yaitu:

1.    Wajib, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa.

2.    Sunnah, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat pahala.

3.    Haram, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat dosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

4.    Makruh, artinya perkara yang jika dikerjakan tidak mendapat dosa, tetapi perbuatan tersebut tidak disukai Allah dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

5.    Mubah, artinya “harus syar’i”, yaitu perkara yang jika dikerjakan ataupun ditinggalkan tiada mendapat dosa atau pahala.

6.    Shahih (sah), artinya perkara yang lengkap segala syaratnya dan segala rukunnya.

7.    Bathal, artinya perkara yang kurang syaratnya atau rukunnya.


C.   Hukum ‘Ady (Adat/Kebiasaan)

Hukum ‘ady artinya menetapkan suatu perkara bagi suatu hal, atau menetapkan suatu perkara pada suatu hal dengan alasan perkara tersebut berulang-ulang.

1.    Pertambatan/penetapan keadaan suatu perkara dengan keadaan perkara lainnya. Misalnya keadaan kenyang dengan keadaan makan.
2.    Penetapan ketiadaan suatu perkara dengan ketiadaan perkara lainnya. Misalnya ketiadaan kenyang dengan ketiadaan makan.
3.    Penetapan keadaan suatu perkara dengan ketiadaan perkara lain. Misalnya keadaan dingin dengan ketiadaan selimut.
4.    Penetapan ketiadaan suatu perkara dengan keadaan suatu perkara lain. Misalnya ketiadaan hangus dengan adanya siraman air.

Sekarang Anda telah mengetahui perbedaan wajib syar’i dengan wajib ‘aqly. Jika disebutkan wajib atas tiap mukallaf maksudnya ialah wajib syar’i. Jika disebutkan wajib bagi Allah ta’ala atau bagi Rasulullah, maka maksudnya ialah wajib ‘aqly. Jika dikatakan jaiz bagi mukallaf, maka maksudnya jaiz syar’i. Jika dikatakan jaiz bagi Allah ta’ala, maka maksudnya adalah jaiz ‘aqly.
Yang wajib pada Allah ‘azza wajalla dengan tafshil disebut sifat dua puluh, yang telah berdiri dalil ‘aqly dan naqly atasnya. Wajib atas tiap mukallaf mengetahui dengan ijmaly saja di dalam perkataan (bersifat Allah ta’ala dengan setiap sifat  kesempurnaan. Adapun yang mustahil pada Allah ‘azza wajalla dengan tafshil ada 20 perkara, yaitu lawan dari dua puluh sifat yang wajib bagi Allah ‘azza wajalla. Yang mustahil pada Allah ‘azza waJalla dengan ijmaly yaitu yang ada di dalam perkataan “Maha Suci Allah dari setiap sifat kekurangan dan dari perkara yang terbayang (terbersit) di hati.”


BAB II. SIFAT WAJIB MUSTAHIL DAN JA’IZ BAGI ALLAH

1.    وُجُودٌ Wujud (Ada). Mustahil ‘Adam (tiada).
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ
”Allah yang menciptakan langit dan bumi serta yang berada diantara keduanya…” (QS. as-Sajdah ayat 4).
Tuhan haruslah Ada, mustahil Tuhan itu bersifat tidak ada. Sesuatu bisa disebut Ada, kalau ia ada dengan sendirinya. Sebab ”Ada” adalah kata aktif, bukan pasif. Jadi segala sesuatu yang ”diadakan” maka dia bukanlah Tuhan, sebab sifatnya ”diadakan”, bukan ”Ada”. Umpamanya ada orang lumpuh, dia dibantu dan digerakkan atau diposisikan sehingga ia berada pada posisi duduk. Maka sebenarnya ia tidak duduk akan tetapi didudukkan. Ketika ia ditopang oleh orang lain sehingga berada pada posisi berdiri, sebenarnya ia tidak berdiri, melainkan didirikan. Tuhan tidak diadakan. Tuhan itu Ada tanpa diadakan.
Tidak pantas jika kita menyembah sesuatu yang diciptakan. Tidak pantas jika manusia menyembah Isa As., Uzair As., patung, Fir’aun, pohon, dewa-dewa, jin, malaikat, dsb. Sebab mereka semua diciptakan. Sesuatu yang diciptakan bukanlah Tuhan. Justru Tuhan itulah yang mencipta segala yang ada. Allah berfirman dalam al-Qur`an surat al-Anbiya` ayat 30: ”Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan kabut. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” (QS. Fushshilat ayat 11-12)
Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. adz-Dzariyat ayat 47)
”Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit dan bumi. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah berlayang-layang di atas muka air itu.” (Kejadian 1:1-2 TL)
Pada tahun 1929, A.E. Hubble seorang astronom berkebangsaan Amerika menghadirkan sebuah penemuan besar. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia mendapati cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah. Hal ini berarti, bintang tersebut menjauh dari tempat observasi. Artinya bintang menjauhi bumi secara tetap. Sebelumnya ia juga mendapati bahwa galaksi-galaksi dan bintang-bintang bergerak saling menjauh satu dengan yang lainnya. Ini menjelaskan bahwa ternyata alam semesta meluas, “Tidak statis sebagaimana diklaim oleh kaum Atheis. Alam semesta yang meluas ini menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka didapati bahwa alam semesta berasal dari ”titik tunggal”. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini, mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di alam semesta, mempunyai ”volume nol” dan ”kerapatan tak terbatas”. Alam semesta tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan luar biasa dahsyatnya yang disebut Ledakan Dahsyat (Big Bang) ini menandai dimulainya alam semesta. Adapun yang dimaksud dengan ”volume nol” adalah ketiadaan.
Ini adalah bukti bahwa agama Islam bukanlah takhyul. Sebab keyakinan bahwa alam semesta itu diciptakan oleh Allah dapat dijelaskan secara ilmiah. Justru teori yang mengatakan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan itulah yang merupakan kepercayaan takhayul yang tidak logis, tidak masuk akal, tidak ilmiah, jahil, sesat. Jika tidak diatur oleh Allah, mana mungkin sebuah ledakan dahsyat dapat menghasilkan tatanan yang teratur seperti yang kita lihat pada alam semesta. Sebagaimana kita ketahui, setiap ledakan itu hanya menghasilkan kekacau-balauan. Tidak mungkin ledakan dinamit menghasilkan bangunan megah yang kokoh dan indah. Tanpa kekuasaan Allah, tentu zat-zat itu akan berhamburan tanpa kontrol. Tetapi pada kenyataannya, setelah peristiwa Big Bang, zat-zat itu bergerak dengan kecepatan dan arah yang sangat terkendali. Tentu saja Allah Yang telah menahan zat-zat tersebut agar tidak berhamburan tanpa kendali.
Allah Ada bukan dengan diadakan, tetapi Allah memang bersifat Wujud (Ada). Allah ada dengan sendiriNya. Sedangkan makhluk pada hakikatnya tidak ada, melainkan diadakan. Jelas beda antara ada dengan diadakan. Itulah salah satu ma’na kalimat tauhid (Laa Maujud Illallaah)
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk berdzikir kepada Allah ta’ala pada tiap yang maujud. Dzikir itu dapat dilakukan dengan banyak cara, misalnya dengan menyebut Asma Allah atau memujiNya dengan lisan dan juga meyakini dengan hati, bisa juga dengan mengingat ni’mat yang telah Allah berikan, berfikir tentang keindahan dan keteraturan yang ada pada ciptaan Allah termasuk diri sendiri, mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh terdahulu, mengambil pelajaran dari musibah dan peristiwa dsb.
2.    قِدَمٌ Qidam (Terdahulu). Mustahil huduts (baru) atau didahului oleh ketiadaan.
هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ
”Dia Yang Awal dan Yang Akhir.” (QS. al-Hadid ayat 3)
Tuhan haruslah yang terdahulu. Tuhan tidak didahului oleh ketiadaan. Sesuatu yang diawali dengan ketiadaan berarti sifat aslinya adalah tiada. Sedangkan kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu sifat aslinya adalah ”Ada”. Dia Ada karena Dia memang Ada, jika diawali ketiadaan, kemudian menjadi Ada, lalu siapa yang membuat dia menjadi ”Ada”? Maka yang membuat menjadi ”ada” itulah Tuhan, dan Tuhan tidak mungkin diadakan. Tuhan haruslah Terdahhulu.
Maka tidak pantas kita menyembah sesuatu yang didahului oleh ketiadaan. Astrofisikawan terkenal, Hugh Ross menuturkan: “Jika permulaan waktu bersamaan dengan awal keberadaan alam semesta, seperti dijelaskan teorema-angkasa, maka penyebab alam semesta harus merupakan kesatuan yang berfungsi dalam suatu dimensi waktu yang sepenuhnya terpisah, dan sudah ada sebelumnya. Kesimpulan ini sangat penting untuk pemahaman kita tentang Siapa Yang Tuhan dan siapa/apa yang bukan Tuhan. Rabb bukanlah alam semesta (makhluk) itu sendiri dan tidak terkandung dalam alam semesta (baik ruang maupun waktu).”
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.” (QS. al-Ikhlash ayat 3)
”Dia Yang Awal dan Yang Akhir.” (QS. al-Hadid ayat 3)
Akulah Yang Awal dan Akulah Yang Akhir, tidak ada Allah selain daripadaKu.” (Yesaya 44: 6)
Allah itu Wujud (Ada). Itulah Sifat Allah. Sedangkan ‘adam (tiada) bukanlah Sifat Allah. Allah tidak didahului ketiadaan. Ketiadaan itu ciptaan Allah. Apa yang selain Allah hakikatnya (sebenarnya) tidak ada. Allah Ada walaupun makhluk belum diadakan. Allah bersifat Qidam (Terdahulu). Sedangkan makhluq adalah yang terkemudian. Manusia dan jin itu tidak ada. Lalu Allah menciptakan keduanya. Ada yang diciptakan kafir dan ada yang diciptakan mu`min.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk bersyukur kepada Allah ‘azza wajalla yang telah menjadikan kita mu`min dan muslim dengan taufiqNya.
3.    بَقَاءٌ Baqa` (Kekal). Mustahil fana’ (binasa) atau dihubungi/mengalami ketiadaan.
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ
“Dan kekal Dzat AllahYang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.” (QS. ar-Rahman ayat 27)
Tuhan haruslah kekal, tidak mungkin Tuhan itu sementara. Allah Ada, Allah adalah Yang Akhir, ketika semua makhluk telah binasa, Allah tetap Ada. Allah tidak mengalami sakit, tidak mengantuk, tidak tidur, tidak lelah, apalagi binasa.
”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya), tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izinNya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah ayat 255)
”Tidakkah kau tahu, dan tidakkah kaudengar? Tuhan ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertianNya.” (Yesaya 40:28)
Maka tidak pantas kita menyembah sesuatu yang mengalami sakit, lelah, apalagi binasa. Dalam Alkitab dikatakan: “Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih disebabkan perjalanan, sebab itu ia duduk di pinggir sumur itu.” (Yohanes 4:6)
”Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur.” (Matius 8:24)
Disebabkan alam semesta (termasuk kita) tidak kekal, maka sudah semestinya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dan hari berbangkit.
”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-A’raf ayat 56)
”Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Naazi’at ayat 34-41)
Untuk memahami tentang semuanya alam semesta dan relativitas waktu, kami jelaskan sedikit di sini bahwa alam semesta itu seperti mimpi. Materi hanyalah imajinasi. Sewaktu kita bermimpi, kita merasa bahwa kita berjalan, bergerak, menyentuh sesuatu, merasakan sesuatu, mendengar sesuatu, padahal itu hanyalah imajinasi. Tetapi imajinasi yang kita rasakan dalam ”alam nyata” adalah tanda dari apa yang akan kita alami di alam berikutnya. Apakah kita akan ”terbangun dari mimpi” kemudian merasakan ”mimpi indah”, atau kita ”terbangun dari mimpi” kemudian merasakan ”mimpi buruk”.
”Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin ayat 51-54)
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. an-Nazi’at ayat 46)
Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya, lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah. Dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang). Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. al-Baqarah ayat 259)
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS. al-mu`minun ayat 112-114)
Dan mereka meminta kepadamu agar adzab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janjiNya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. al-Hajj ayat 47)
Mungkin Anda pernah melihat film flora tentang pertumbuhan sebuah benih. Anda melihat benih itu tumbuh hanya dalam beberapa detik saja hingga ia menjadi tumbuhan dewasa. Padahal kenyataannya untuk tumbuh menjadi tumbuhan dewasa diperlukan waktu berminggu-minggu. Ketahuilah bahwa apa yang Anda lihat dalam film itu adalah peristiwa yang dipercepat. Tetapi si film seandainya ia dapat merasa seperti manusia, tidak merasa bahwa ia sedang menjalani percepatan. Ia merasa normal. Ia merasakan tiap frame dengan normal. Ia merasakan siang dan malam silih berganti dengan normal. Tetapi itu adalah perhitungan si film. Sedangkan bagi kita siang dan malam mulai dari benih hingga menjadi tumbuhan dewasa pada si film terjadi hanya dalam waktu beberapa detik. Ternyata perhitungan si film terhadap dirinya berbeda dengan perhitungan kita terhadap si film.
Allah Ada. Mustahil tidak ada atau mengalami ketiadaan. Allah Ada walaupun makhluk tidak ada. Allah adalah Yang Akhir. Allah tidak mengalami sakit, kantuk, tidur, lelah, apalagi binasa. Sedangkan makhluk tidak ada. Lalu makhluk diadakan.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk ingat bahwa ia akan mati supaya ia beristighfar dan bertaubat kepada Allah ta’ala.
4.    لِلْحَوَادِثِ مُخَالَفَةُ Mukhalafatu li al-Hawadits (Berbeda dengan yang baru). Mustahil Allah itu sama dengan yang baru.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
”Tiada yang serupa dengan Dia sesuatu pun.”  (QS. asy-Syura ayat 11)
Tuhan haruslah berbeda dengan alam semesta. Tidak mungkin Tuhan itu sama dengan ciptaanNya. Allah Mahakuasa, sedang makhluk adalah lemah, namun Allah yang memberi mereka kekuasaan.
Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. al-Ikhlash ayat 4)
Tiada yang serupa dengan Dia sesuatu pun.” (QS. asy-Syura ayat 11)
Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” (Yesaya 40:29)
Siapakah seperti Aku?” (Yesaya 44:7)
Dengan mempelajari sifat Allah, maka kita akan melihat betapa Kuasa Allah dan betapa lemahnya manusia. Kita akan melihat bahwa Allah memang berbeda dengan makhluknya.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk bertasbih kepada Allah ta’ala.
5.    قِيَامُهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ Qiyamuhu Ta’ala bi Nafsihi (Berdiri Allah ta’ala dengan DiriNya Sendiri). Mustahil Allah tidak berdiri dengan SendiriNya.
إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
”Sesungguhnya Allah ta’ala Yang kaya dari pada alam semesta.” (QS. al-Ankabut ayat 6)
Tuhan tidak butuh kepada yang lain. Tuhan tidak butuh makan, tidak lapar, tidak haus, tidak butuh air, tidak butuh udara, tidak butuh alam semesta. Ketakwaan dan kejahatan kita tidak berpengaruh kepada Kekuasaan dan Kerajaan Allah.
Sesungguhnya Allah Yang Kaya tidak butuh kepada alam semesta.” (QS. al-Ankabut ayat 6)
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu.” (QS. al-Ikhlash ayat 2)
Maka tidak pantas jika kita menyembah sesuatu yang faqir. Tidak pantas kita menyembah sesuatu yang membutuhkan makanan dari Allah.
Pada pagi hari dalam perjalanannya ke kota, Yesus merasa lapar. Dekat jalan ia melihat pohon Ara, lalu pergi ke situ, tetapi ia tidak menemukan apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja.” (Matius 21:18-19)
Ayat Alkitab di atas menunjukkan bahwa Isa itu hanyalah manusia biasa yang merasakan lapar, dan beliau tidak tahu, kapan musim buah Ara. Faqir (membutuhkan sesuatu yang selain dirinya) dan tidak tahu bukanlah sifat Tuhan.
Allah Ada tanpa diciptakan. Tidak ada Tuhan selain Allah. Allah Yang Menciptakan alam semesta. Allah tidak membutuhkan makhluk. Tetapi makhluk membutuhkan Allah. Allah adalah Yang Kaya, sedang kita adalah faqir. Ketaqwaan dan kejahatan kita tidak berpengaruh atas Kekuasaan Allah. Sedangkan makhluk ada dengan diadakan.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk mengutarakan keperluannya hanya kepada Allah saja.
6.    وَحْدَانِيَة Wahdaniyah (Esa DzatNya dan Esa SifatNya dan Esa PerbuatanNya). Mustahil berbilang DzatNya atau SifatNya atau PerbuatanNya.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
”(Katakanlah wahai Muhammad): Allahitu Esa.” (QS. Al-Ikhlash ayat 1)
Tuhan itu Esa, tunggal. Tidak mungkin Tuhan itu berbilang atau terpisah-pisah. Tidak mungkin sebagian dari Tuhan ada di surga dan sebagian lagi ada di bumi.
Yesus menjawab: “Hukum yang terutama adalah ”Dengarlah wahai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.” (Markus 12:29)
Sepanjang Perjanjian Baru, Yesus selalu berkata bahwa Tuhan itu Tunggal, tidak pernah Yesus berkata bahwa Tuhan itu Tritunggal. Bahkan dalam Perjanjian Lama pun, orang-orang Yahudi itu percaya bahwa Tuhan itu Tunggal, bukan Tritunggal.
Dzat, Sifat dan Perbuatan Allah adalah Esa. Tidak terpisah-pisah. Al-Qur`an adalah Allah. Al-Qur`an itu Kalamullah. Kalamullah adalah Qidam. Qidam adalah Allah. Allah adalah Qidam. Yang selain Allah adalah huduts (terkemudian). ‘Alim (Mengetahui) adalah Allah. Bashir (Melihat) adalah Allah. Semua Sifat dan Perbuatan, serta Dzat Allah adalah Tunggal. Berbeda dengan makhluk. Tubuh manusia diciptakan. Pendengaran manusia diciptakan. Penglihatan manusia diciptakan. Manusia mendengar dengan disampaikan suara kepada manusia tersebut oleh Allah. Perbuatan melihat yang dipunyai manusia diciptakan oleh Allah. Segala sifat manusia seperti bisa mendengar, bisa melihat, bisa berbicara, itu semua ciptaan Allah (makhluk). Segala perbuatan manusia seperti mendengar, melihat berbicara, berjalan, berdiri, beribadah, semua itu diciptakan Allah. Segala goresan hati manusia, kehendaknya, rencananya adalah makhluk (diciptakan oleh Allah). Bumi diciptakan oleh Allah. Diputar oleh Allah. Dilipat oleh Allah. Rumah diciptakan oleh Allah. Ditahan dan diruntuhkan oleh Allah. Semua ciptaan (makhluk) tentu diciptakan, dan Pencipta (al-Khaliq) hanyalah Allah. Tiada Tuhan selain Allah Yang Menciptakan alam semesta.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk ingat kepada Perbuatan Allah atas tiap kejadian.
7.    قُدْرَة Qudrah (Mahakuasa) Mustahil Allah ‘ajz (lemah).
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah ayat 20)
”Maka Maha Suci (Allah) yang di tanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNya lah kamu dikembalikan.” (QS. Yasin ayat 83)
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung. Kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (QS. Ali 'Imran ayat 49)
“Pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dengan nama Bapa, itulah yang memberikan kesaksian tentang aku (bahwa aku adalah seorang rasul).” (Yohanes 10:25)
“Dan Ia (Allah) telah memberikan kuasa kepadanya (kepada Yesus).” (Yohanes 5:27)
Yesus berkata: ”Anak tidak mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri. Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki Bapa.” (Yohanes 5:19, 21)
”Yesus berkata: ”Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri.” (Yohanes 5:30)
”Yesus berkata: “Kepadaku telah diberikan segala kuasa…” (Matius 28:18)
”Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepadaNya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepadamu?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepadaku, aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: ”Dari surga”, ia akan berkata kepada kita: ”Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya?” Tetapi jikalau kita katakan: ”Dari manusia”, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi." Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Dan Yesus pun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah aku melakukan hal-hal itu." (Matius 21:23-27)
Dalam al-Qur`an dan Alkitab dijelaskan bahwa kuasa Yesus adalah berasal dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwa makhluk diciptakan oleh Allah. Begitu pula perbuatannya serta sifatnya. Allah Berkuasa atas makhluk. Sifat dan perbuatan dari suatu makhluk adalah makhluk. Sedangkan makhluk tidak berkuasa. Makhluk tidak bisa bergerak untuk beribadah atau pun menghindari ma’siat. Sifatnya lemah, lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa, maka makhluk tidak kuasa berbuat apa-apa. Yang Berbuat hanyalah Allah. Allah Yang Membolak-balikkan hati. Tetapi ingat, Allah Maha Tahu, Maha Adil, Maha Bjaksana dan Mengetahui Hikmah (al-Hakam). Sedangkan manusia sangat bodoh dan dzalim. Apa yang diketahui manusia sangat sedikit jika dibandingkan dengan apa yang tidak diketahui oleh manusia. Maka tidak pantas manusia menyombongkan dirinya yang lemah. Sungguh tiada daya untuk menghindari kejahatan dan tiada kekuatan untuk berbuat kebajikan kecuali dengan Kasih Sayang dan Kuasa Allah.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk tawadhu`, tidak takabbur, dan banyak takut kepada Allah ta’ala.
8.    إِرَادَة Iradah (Mahaberkehendak). Mustahil Allah tidak memiliki kehendak.
فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
”Allah berbuat seperti apa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Buruj ayat 16)
”Yesus berkata: “Aku tidak menuruti kehendakku sendiri, akan tetapi aku menuruti kehendak Dia yang mengutus aku.” (Yohanes 5:30)
“Aku datang bukan atas kehendakku sendiri, akan tetapi atas kehendak Dia yang mengutus aku.” (Yohanes 8:42)
Maka jelaslah bahwa Yesus dikuasai oleh kehendak dan kuasa Allah. Yesus tidak berkuasa atas dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Tuhan dikuasai? Maka Yesus bukanlah Allah, dia bukanlah Tuhan. Yesus hanyalah utusan Tuhan.
Tuhan itu Mahaberkehendak dan berbuat seperti apa yang dia kehendaki, bukan seperti yang dikehendaki oleh pihak lain. Apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi. Apa yang tidak dikehendaki oleh Allah pasti tidak terjadi (tidak ada). Jika Ia Menghendaki sesuatu, maka ia cukup berfirman, “Kun (Jadi)”, maka terjadilah (lihat QS. Yasin ayat 82). Dan Allah adalah Yang Baik. Yang dikehendaki oleh Allah adalah kebaikan. Tetapi kebodohan manusia tidak dapat menembus Hikmah al-Hakam.
Setiap peristiwa itu berhubungan dengan waktu. Jika Allah berfirman: “Kun” pada setiap peristiwa dan waktu berarti Allah terperangkap pada waktu? Tidak, tidak demikian. Allah berfirman: “Kun” dan semua peristiwa dari awal hingga akhir di alam semesta tercipta. Tetapi manusia merasakan tiap frame dari kehidupan secara bergantian sehingga mereka merasa bahwa waktu itu ada. Padahal waktu, sebagaimana materi, hanyalah imajinasi.
Anda mungkin pernah bermimpi yang mana dalam mimpi tersebut Anda merasa menjalaninya dengan sangat lama. Tetapi sewaktu Anda terbangun, ternyata Anda hanya tertidur selama beberapa puluh menit. Apa yang Anda rasakan sebagai waktu ternyata hanyalah imajinasi.
Dalam QS. al-Hajj ayat 14, Allah menjelaskan bahwa yang memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal shalih adalah Allah. Begitulah Allah berbuat apa-apa yang Dia kehendaki.
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Hajj ayat 14)
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk bersyukur kepada Allah ta’ala atas tiap ni’mat dan bersabar atas tiap musibah.
9.    عِلْمٌIlmun (Tahu) Mustahil Allah jahil (bodoh).
وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم
”Dan Allah dengan tiap sesuatu adalah Maha Mengetahui.” (al-Hujurat ayat 16)
Lihat pula QS. al-Baqarah ayat 29,231,282; QS. Al-An’am ayat 115; QS. at-Taubah ayat 115; QS. al-Hadid ayat 3.
”(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang saat itu (hari akhir), kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (kepada saat itu, hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. an-Nazi'at ayat 42-46)
Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Matius 24:36)
Allah Mengetahui segala sesuatu, walupun sesuatu itu menurut kita belum terjadi. Allah Mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang tersingkap.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk takut berbuat ma’siat kepada Allah, sebab Allah Ta’ala Maha Mengetahui atas tiap perbuatan kita.
10. حَيَاةٌ Hayah (Hidup) Mustahil Allah mati.
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوتُ
“Dan serahkan dirimu (tawakkal) kepada Yang Hidup Dzat Yang tidak mati.” (QS. al-Furqan ayat 58)
Lihat juga QS. al-Baqarah ayat 255 dan QS. Ali ‘Imran ayat 2
Tuhan itu Hidup. Hidup Tuhan tidak berasal dari siapa pun, melainkan Tuhan Hidup dengan SendiriNya. Dan mustahil Tuhan itu mati. Sedangkan kehidupan makhluk berasal dari Allah.
”Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam DiriNya, demikian juga diberikanNya anak mempunyai hidup dalam dirinya.” (Yohanes 5:26)
Allah tidak mungkin mati. Tetapi kita pasti mati. Tiada Yang Kuasa selain Allah. Dan sesungguhnya termasuk ujian yang sangat berat adalah maut. Kita  tidak ada, lalu diadakan, maka kepada Allah tempat kita kembali.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk bertawakkal (berserah diri) kepada Allah ta’ala.
11. سَمْعٌ Sama’ (Mendengar). Mustahil Allah tuli.
وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan Allah ta’ala Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” (QS. al-Baqarah ayat 256)
Allah Mahamendengar. Dia mendengar dan mengabulkan doa yang ditujukan kepadaNya. Adapun mengenai pengabulan doa, adakalanya Allah kabulkan seperti apa yang kita kehendaki, adakalanya Allah kabulkan seperti apa yang Allah kehendaki, dan itu baik bagi si pendoa. Dan adakalanya Allah tangguhkan doanya itu dan diganti dengan yang lebih baik di akhirat kelak. Jadi doa itu bukanlah untuk meminta apa yang kita kehendaki. Tetapi untuk menyampaikan keinginan kita. Dan Allah menyukai hambaNya yang berdoa kepadaNya. Dengan kesukaanNya itu, maka Allah berikan yang terbaik bagi si hamba. Jika apa yang dikehendaki si hamba itu memang baik, maka Allah kabulkanlah seperti yang dikehendaki. Jika yang dikehendaki si hamba itu berakibat buruk, atau kurang baik, maka Allah berikan yang lebih baik dari apa yang dikehendaki si hamba. Dan jika dikabulkan di dunia ini seperti yang diinginkan si hamba itu buruk, maka Allah menangguhkannya dan menggantinya dengan yang lebih baik, yaitu dengan ampunan dan kasih sayangNya di akhirat kelak. Tetapi ada kalanya, seseorang itu berdoa, dan itu dapat berakibat buruk baginya, lalu Allah mengabulkannya sehingga ia semakin jauh dari Allah. Maka yang demikian itu adalah istidraj. Allah membiarkan dia terlena dalam kenikmatan, sehingga di hari kiamat Allah dapat menyiksanya dengan siksa yang pedih diakibatkan kekufurannya.
Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” (QS. al-Baqarah ayat 256)
Yesus berdoa: “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39)
Bahkan Yesus berdoa semalaman dengan penuh kesungguhan agar diselamatkan dari penyaliban. Dan dia menyerahkan kepada Allah, apa yang terbaik baginya. Sebab Allah Mahamengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya yang Dia sayangi. Dari sini, apakah Anda mau berkata bahwa Yesus bersedia disalib? Tidak, Yesus tidak bersedia disalib. Tidak ada yang namanya ”penyelamatan melalui penyaliban Yesus”. Yesus diutus bukan untuk disalib, tetapi untuk menyelamatkan Israel dari kebinasaan dengan mengajarkan aqidah dan cara hidup (syariat) yang diridhoi Tuhan. Penyaliban Yesus bukanlah perintah Tuhan. Jika itu perintah Tuhan, mengapa Yesus enggan disalib. Sedangkan Abraham dan anaknya pun bersedia menjalankan perintah Tuhan. Penyaliban Yesus itu adalah buah kedengkian imam-imam Yahudi. Supaya tidak dipersalahkan, mereka buatlah doktrin yang aneh ini melalui mulut Paulus yang penuh dengan dusta.
Allah Mahamendengar segala perkataan kita. Bahkan apa yang kita ucapkan dalam hati. Allah Mahamendengar atas segala ucapan yang baik dan yang buruk.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk tidak berkata yang haram, sebab Allah  Mahamendengar atas segala perkataan.
12. بَصَرٌ Bashar (Melihat). Mustahil Allah buta.
وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Dan Allah ta’ala Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. al-Hujurat ayat 18)
Maka patut bagi mu`min mu’taqad bahwa ia tiada membuat ma’siat, sebab Allah ta’ala Maha Melihat segala perbuatan.
13. كَلامٌ Kalam (Berkata/Berfirman). Mustahil Allah bersifat kelu (bisu).
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
“Dan berkata Allah ta’ala kepada Musa dengan sempurna/sebenar-benarnya Berkata.” (QS. an-Nisa` ayat 164)
Segala sesuatu dijadikan oleh Allah dengan kalamNya, “Kun” (jadilah), maka jadilah segala sesuatu. Dengan AsmaNya segala sesuatu itu terjadi, dengan AsmaNya segala sesuatu bermula, dan kepadaNya segala sesuatu kembali.
“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.” (QS. al-Mu`min ayat 68)
Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin ayat 82)
Oleh Firman Tuhan langit dijadikan, oleh nafas dari mulutNya segala tentaraNya.” (Mazmur 33:6)
Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” (Mazmur 33:9)
“Berfirmanlah Allah: “Jadilah…” (Kejadian 1:3,6,9,11,14,20,24,26)
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk banyak berdzikir kepada Allah ta’ala dengan pengharapan Asma Allah
14. قَادِرٌ Qadiran (Yang Menguasai) Mustahil Allah Dzat yang lemah.
Dalilnya yaitu dalil sifat Qudrah. Rasulullah Saw. Bersabda: “Demi Dzat Yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya salah seorang (di antara) kamu telah melakukan amalan penghuni surga. Namun ketika perjalanannya tinggal sehasta lagi, karena ketentuan taqdir bisa jadi dia berbalik melakukan amalan penghuni neraka (su`ul khatimah). Sebaliknya salah seorang (di antara) kamu telah melakukan amalan penghuni neraka. Namun ketika perjalanannya tinggal sehasta lagi, karena ketentuan taqdir bisa jadi dia berbalik melakukan amalan penghuni surga (husnul khatimah), sehingga ia bisa masuk ke dalamnya.”
Rasulullah Saw. juga bersabda: “Setiap orang dari kalian, atau setiap jiwa yang bernafas, oleh Allah telah ditentukan tempatnya di surga atau di neraka. Bahkan oleh Allah juga sudah ditentukan apakah dia sebagai orang yang celaka atau orang yang bahagia.” Seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita menunggu ketentuan tqdir kita, dan tidak usah beramal?” Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa yang termasuk golongan bahagia, dia pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang golongan bahagia. Dan Siapa yang termasuk golongan celaka, dia juga pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang golongan celaka. Beramallah! Setiap kamu dipermudah. Orang-orang golongan bahagia, mereka akan dipermudah untuk melakukan amalnya orang-orang golongan bahagia. Adapun orang-orang golongan celaka, mereka juga akan dipermudah untuk melakukan amalnya orang-orang golongan celaka.”  Lalu beliau Saw. membaca surat al-Lail ayat 5-10:  “Adapun orang-orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya balasan yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (kaya/tidak faqir/tidak membutuhkan Allah atau siapapun), serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.”
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk banyak takut kepada Allah ta’ala Yang Maha Kuasa. Yang Telah Memberi banyak kebajikan.
15. مُرِيْدٌ Muridan (Yang Berkehendak/Yang Menentukan). Mustahil Allah tidak menentukan apalagi diatur/ditentukan.
Dalilnya yaitu dalil sifat Iradah.  Bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: ”Ummu Habibah pernah berdo’a, “Ya Allah, panjangkanlah usia suamiku Rasulullah Saw., juga ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu’awiyah.” Rasulullah Saw. lalu bersabda kepada isterinya itu: “Itu artinya kamu memohon kepada Allah ajal-ajal yang sudah dibuat, sejarah-sejarah yang sudah ditentukan, dan rizki-rizki yang sudah dibagi. Sedikitpun daripadanya tidak akan dimajukan atau ditangguhkan dari waktunya. Sekiranya kamu memohon kepada Allah agar Dia berkenan melindungimu dari siksa neraka dan siksa kubur, niscaya hal itu lebih baik bagimu.” (HR. Muslim)
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk berdoa kepada Allah ta’ala atas kebajikan dunia dan akhirat, serta memohon agar dihindari dari keburukan di dunia dan di akhirat.
16. عَالِمٌAlimun (Yang Mengetahui) Mustahil Allah Dzat yang jahil (bodoh)
Dalilnya yaitu dalil sifat ‘Ilmu. Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk senantiasa minta pertolongan kepada Allah ta’ala di dalam setiap hal dan minta agar dipelihara dari setiap kejahatan dunia dan akhirat.
17. حَيٌّ Hayyun (Yang Hidup) Mustahil Allah Dzat yang mati.
Dalilnya yaitu dalil sifat Hayah. Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk banyak bertawakkal (berserah diri dalam segala hal) kepada Allah ta’ala.
18. سَمِيْعٌ Sami’un (Yang Mendengar). Mustahil Allah tuli (tidak mendengarkan)
Dalilnya yaitu dalil sifat Sama’.  Rasulullah Saw. bersabda dalam Hadits Qudsi bahwa Allah Swt. telah berfirman: “Sesungguhnya Aku (berbuat) seperti yang disangka oleh hambaKu. Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika ia mengingatKu di dalam hatinya, maka Aku akan Mengingatnya di dalam HatiKu. Jika ia mengingatKu di suatu kumpulan orang, maka Aku akan Mengingatnya di dalam jama’ah yang lebih baik (Allah menceritakan/membanggakan manusia yang berdzikir dan berdo’a di hadapan malaikat). Jika ia mendekati Aku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati Aku sehasta, maka akau akan mendekat padanya sedepa. Jika ia mendekat padaKu sambil berjalan. Maka Aku Mendekat kepadanya dengan bergegas. Sesungguhnya hisabKu sangat cepat.”
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk senantiasa memberi pujian kepada Allah ta’ala dan banyak berdo’a kepadaNya (dan berprasangka baik).
19. بَصِيْرٌ Bashiran (Yang Melihat). Mustahil Allah yang buta (tidak melihat)
Dalilnya yaitu dalil sifat Bashar. Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk senantiasa banyak malunya kepada Allah ta’ala Yang Melihatnya ketika ia berbuat dosa atau meninggalkan yang fardhu.
20. مُتَكَلِّمٌ Mutakalliman (Yang Berkata/Berfirman). Mustahil Allah Dzat Yang tidak berkata (bisu)
Dalilnya yaitu dalil sifat Kalam.  Sebagaimana telah dikatakan, bahwa al-Qur`an itu adalah Kalamullah. Kalamullah adalah Qadim. Sewaktu kita membaca al-Qur`an berarti kita sedang mengucapkan apa yang dikatakan Allah. Maka siapa yang mendengar al-Qur`an hendaknya ia mengucapkan, “Allah”; agar ia ingat bahwa al-Qur`an adalah Kalam Allah, Rabbul ‘alamin. Rasulullah Saw. Bersabda: “Barangsiapa ingin berdialog dengan Allah, maka bacalah al-Qur`an.”
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk senantiasa banyak membaca al-Qur`an dengan khusyu’, hormat dan penuh ta’dzim dengan tajwid (tartil) dan bukan dengan adu baca qira`ah.


BAB III. PEMBAGIAN SIFAT ALLAH DAN PEMAHAMANNYA

1.    Sifat Nafsiyyah: yaitu hal yang wajib bagi Dzat selama Dzat bersifat wujud (ada) tidak disebabkan suatu sebab. Yang termasuk sifat nafsiyah adalah sifat وُجُودٌ
2.    Sifat Salbiyyah/Penolakan: yaitu sifat yang seakan-akan menafikan sifat/sesuatu yang tidak layak pada Allah ‘azza wajalla. Sifat ini mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah Dzat Yang Sempurna. Yang termasuk sifat salbiyah adalah sifat:       قِدَمٌ - بَقَاءٌ - مُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ- قِيَامُهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ- وَحْدَانِيَة
3.    Sifat Ma’aniy: yaitu setiap sifat yang ada  pada Dzat yang mewajibkan Dzat bersifat Ma’nawiyyah.  Yang termasuk sifat ma’aniy yaitu:    كَلامٌ -بَصَرٌ -سَمْعٌ -حَيَاةٌ -عِلْمٌ -إِرَادَة قُدْرَة
4.    Sifat Ma’nawiyyah: yaitu hal yang tetap bagi Dzat dikarenakan Dzat bersifat Ma’ani. Jadi kedua sifat ini saling memerlukan (berhubungan). Yang termasuk sifat ma’nawiyah yaitu: مُتَكَلِّمٌ -بَصِيْرٌ -سَمِيْعٌ -حَيٌّ -عَالِمٌ -مُرِيْدٌ -قَادِرٌ
      Kemudian adapun yang harus (Jaiz) bagi Allah adalah satu, yaitu melakukan segala mumkinat (sesuatu yang bersifat mungkin) atau meninggalkannya.
Wajib pula bagi tiap mukallaf mengi’tiqadkan dengan 9 I’tiqad lagi.
1.    Mustahil pada Allah ta’ala kewajiban atasNya membuat segala yang mungkin atau meninggalkannya; yaitu lawan dari yang harus (Jaiz) pada Allah ta’ala.
2.    Maha Suci Allah daripada mengambil faidah dari segala perbuatanNya atau dari hukumNya.
3.    Mustahil pada Allah mengambil faidah dari segala perbuatanNya atau dari hukumNya.
4.    Wajib bagi segala mumkinat (sesuatu yang bersifat mungkin) bahwa ia tiada memberi bekas/pengaruh dengan kekuatannya.
5.    Mustahil bagi segala mungkin bahwa ia memberi bekas/pengaruh dengan kekuatannya.
6.    Wajib I’tiqad bahwa alam semesta adalah huduts (baharu)
7.    Mustahil alam semesta itu qadim (terdahulu).
8.    Wajib bagi segala mumkinat (sesuatu yang bersifat mungkin) tiada memberi bekas dengan tabiatnya.
9.    Mustahil bagi segala mumkinat (sesuatu yang bersifat mungkin)  memberi bekas dengan tabiatnya.
Demikianlah ‘aqaid 50 yang merupakan ma’na ”Laa Ilaaha Illallaah”. Sebab ma’na ”Laa Ilaaha” ialah Tiada Yang disembah dengan haq (sebenarnya). Dan Yang disembah dengan sebenarnya adalah Yang Kaya (Yang Tidak Membutuhkan) dari yang selainNya, dan faqir (membutuhkan) kepadaNya yang selainNya. Nyatalah Kekayaan Allah ‘azza wajalla dari yang selainNya, dan faqir kepadaNya yang selainNya (buktinya adalah 50 ‘aqaid yang telah lewat).

A.   Yang menyatakan “Allah Yang Kaya dari setiap yang selainNya”, yaitu 14 ‘aqaid di bawah ini dengan lawannya:
1.     وُجُودٌ
2.     قِدَمٌ
3.     بَقَاءٌ
4.     مُخَالَفَةُلِلْحَوَادِثِ
5.     قيامه تعالى بنفسه
6.     سَمْعٌ
7.     بَصَرٌ
8.     كَلامٌ
9.     سَمِيْعٌ
10.  بَصِيْرٌ
11.  مُتَكَلِّمٌ
12.  Mustahil (pada Allah) kewajiban atasNya membuat segala yang mungkin atau meninggalkannya.
13.  Maha Suci Allah dari mengambil faidah.
14.  (Wajib) segala mumkinat (sesuatu yang bersifat mungkin) tiada memberi bekas dengan kekuatannya.

B.   Yang menyatakan “Berkehendak kepadaNya tiap-tiap yang selainNya”, yaitu 11 ‘aqaid di bawah ini dengan lawannya:
1.    وَحْدَانِيَة
2.    قُدْرَة
3.    إِرَادَة
4.    عِلْمٌ
5.    حَيَاةٌ
6.    قَادِرٌ
7.    مُرِيْدٌ
8.    عَالِمٌ
9.    حَيٌّ
10. (Wajib) alam semesta itu baharu.
11. (Wajib) yang selainNya tiada memberi bekas dengan tabiatnya.



BAB IV. SIFAT WAJIB, MUSTAHIL DAN JA’IZ BAGI PARA RASUL

Kemudian di bawah ini adalah sifat-sifat yang wajib dan yang mustahil bagi para Rasul shalawatullahalaihim wasalamuhu ta’ala.
1.    Shiddiq (benar), mustahil kadzib (dusta).
2.    Amanah (dapat dipercaya), mustahil khianat.
3.    Tabligh (menyampaikan), mustahil katiman (menyembunyikan).
4.    Fathanah (sempurna pengertiannya/cerdas), mustahil baladah (dungu).
Kemudian adapun yang harus (Jaiz) bagi para Rasul adalah satu, yaitu tubuhnya berperangai seperti manusia biasa. Contohnya makan, minum, tidur dan bangun, sakit. Mustahil mereka menjadi kekurangan (tidak seperti manusia normal) seperti sakit gila. Demikianlah ‘aqaid 60.


BAB V. RUKUN IMAN

Iman itu artinya tashdiq (membenarkan. Islam artinya menjunjung segala perintah Allah/tha’at). Rukun iman ada 6, yaitu:
1.     Beriman kepada Allah ta’ala.
Bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang disembah dengan haq.
2.     Beriman kepada para Malaikat.
Bahwasanya mereka itu hamba Allah yang mulia, bukan laki-laki, bukan perempuan, dan sangat taat kepada Allah dan tiada berbuat ma’siat. Malaikat yang wajib dihafal namanya ada 10, yaitu:
1.    Jibril As. tugasnya ialah menyampaikan wahyu.
2.    Mikail As. tugasnya ialah mengatur hujan dan rizqi.
3.    Israfil As. tugasnya ialah meniup sangkala.
4.    ‘Izrail As. tugasnya ialah mencabut nyawa.
5.    Raqib As. tugasnya ialah mencatat perbuatan baik.
6.    ‘Atid As. tugasnya ialah mencatat perbuatan buruk.
7.    Munkar As. tugasnya ialah menanyai di alam qubur.
8.    Nakir As. tugasnya ialah menanyai di alam qubur.
9.    Ridhwan As. tugasnya ialah menjaga pintu surga.
10. Malik As. tugasnya ialah menjaga pintu neraka.
3.     Beriman kepada kitab-kitab Allah.
Kita harus percaya kepada kebenaran kitab-kitab Allah, baik keberadaannya maupun isinya. Dan juga shuhuf atau shahifah, yaitu lembaran-lembaran suci yang berisi Kalamullah yang diturunkan kepada beberapa Nabi. Kitab Allah itu ada 4, yaitu:
1.    Taurat diturunkan kepada Nabi Musa As.
2.    Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud As.
3.    Injil diturunkan kepada Nabi ‘Isa As.
4.    Al-Qur`an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Sedangkan shuhuf atau shahifah berjumlah:
  1. 60 shuhuf diturunkan kepada Nabi Syits As.
  2. 30 shuhuf diturunkan kepada Nabi Ibrahim As.
  3. 10 shuhuf diturunkan kepada Nabi Musa As. (sebelum taurat diturunkan)
  4. 30 shuhuf diturunkan kepada Nabi Idris As. (menurut suatu pendapat)
4.     Beriman kepada para Nabi dan Rasul ‘alihimushshalatu wassalam.
Di bawah ini nama 25 Nabi dan Rasul yang harus diketahui, yaitu yang disebut di dalam al-Qur`an:
1.    Adam As.
2.    Idris As. (QS. Maryam ayat 56-57; QS. al-Anbiya` ayat 85-86)
3.    Nuh As. (QS.Hud ayat 25)
4.    Hud As. (QS.Hud ayat 50)
5.    Shalih As. (QS.Hud: 61)
6.    Ibrahim As. (QS. al-An’am ayat 76-79; QS. Shad ayat 45)
7.    Luth As. (QS. al-‘Ankabut ayat 28)
8.    Isma’il As. (QS. ash-Shaffat ayat 182)
9.    Ishaq As. (QS. Hud ayat 71)
10. Ya’qub As. (QS. al-Baqarah ayat 133)
11. Yusuf As. (QS. Yusuf ayat 4-5)
12. Ayyub As. (QS. Shaad ayat 41-44)
13. Syu’aib As. (QS. al-A’raf ayat 85)
14. Harun As. (QS. al-Qashash ayat 34)
15. Musa As. (QS. al-Qashash ayat 30)
16. Ilyasa’ As. (QS. al-An’am ayat 86)
17. Dzulkifli As. (QS. al-Anbiya ayat 85-86)
18. Dawud As. (QS. al-Isra` ayat 55)
19. Sulaiman As. (QS. an-Naml ayat 16)
20. Ilyas As. (QS. ash-Shaffat ayat 123-126)
21. Yunus As. (QS. al-Anbiya` ayat 87-88)
22. Zakariya As. (QS. Maryam ayat 4-6)
23. Yahya As. (QS. Maryam ayat 12-13)
24. ‘Isa As. (QS. Maryam ayat 30-34)
25. Muhammad Saw.
5.     Beriman kepada hari Qiamat dengan segala hal ihwalnya.
Misalnya (padang) mahsyar, (jembatan) shirath, mizan (timbangan), syafa’at (Rasulullah Saw.), (telaga) kautsar, surga, dan neraka.
6.     Beriman kepada taqdir Allah dalam setiap kejadian.



BAB VI. MENGENAL RASULULLAH SAW.

Wajib bagi mukallaf untuk mengetahui hal ihwal Rasulullah Saw., yaitu sebatas ikhtishar (ringkasan) riwayat hidup Rasulullah Saw.  Inilah ringkasannya:
Rasulullah Saw. dilahirkan di Makkah al-Musyarrifah yang mulia, dengan beberapa tanda dari Allah ta’ala akan kemuliaan Nabi Muhammad Saw. sewaktu dilahirkan oleh ibunya.
Beliau Saw. berkulit putih, perangai serta tingkah lakunya sangat baik, begitu pula ibadahnya.
Di masa lewat usianya 49 tahun, maka beliau Saw. dikaruniakan Isra` Mi’raj oleh Allah Swt. dalam satu malam dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu naik ke tujuh lapis langit bersama-sama Jibril As. Untuk menerima segala perintah Allah ‘azza wajalla kepada sekalian manusia dan sekalian jin.
Di masa usianya 52 tahun, maka beliau hijrah ke negeri Madinah al-Munawwarah, negeri mulia kedua.
Di masa usianya 63 tahun wafatlah Rasulullah Saw. di negeri Madinah, di situlah beliau Saw. dikuburkan.
Wajib diketahui pula akan nama ayahanda dan ibunda Rasulullah Saw. dan menurut sebagian ulama wajib pula mengetahui nama-nama anak keturunannya:
·         Nama Ibunda Rasulullah Saw.: Aminah binti Wahhab.
·         Nama Ayahanda Rasulullah Saw.: Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf.
Tabel berikut ini adalah nama-nama istri-istri Rasulullah, putra-putri Rasulullah, menantu Rasulullah dan cucu-cucu Rasulullah Saw.:
No
Nama Istri-istri Rasulullah Saw.
Nama Putra-putri Rasulullah Saw.
1.
Khadijah binti Khuwailid
Fathimah az-Zahra (menikah dengan Ali bin Abi Thalib) dan memiliki 2 putra; Hasan dan Husein
2.
Juwairiyah
Qasim
3.
Zainab
Abdullah ath-Thayyib ath-Thahir
4.
Hindun
Ibrahim
5.
Ramlah
Zainab
6.
Maimunah
Ruqayyah (menikah dengan Utsman bin Affan)
7.
Shafiyyah
Ummu Kultsum (menikah dengan Utsman bin Affan)
8.
Saudah

9.
Hafshah binti Umar bin Khaththab

10.
‘Aisyah binti Abubakar ash-Shiddiq

BAB VII. MAKNA SYAHADAT PERTAMA
Di bawah ini adalah beberapa makna kalimaT tauhid. Mudah-mudahan dengan taufiq Allah ta’ala dibukakan hati yang membacanya dengan menghadhirkan segala makna tersebut di dalam hatinya hingga dapat tercampur cahaya makna dua kalimat syahadat di darah dagingnya selama hidupnya hingga matinya dengan husnul khatimah. Berkata sebagian ulama bahwa dua kalimat syahadat itu hurufnya ada 24. Di dalam sehari semalam ada 24 jam. Diharapkan ampunan Allah dengan 24 huruf itu atas dosa selama 24 jam. Dan dua kalimat syahadat ada tujuh kalimat/kata. Diharapkan ampunan Allah atas dosa tujuh anggota dan dihindari dari tujuh neraka.

اللّهُ مثبت

إلا اثبات
إلٰهَ منفى
لا نفى

Yang Ditetapkan
Penetapan
Yang Ditolak
Penolakan

إِلا اللهُ المَعْبُودُ بِحَقٍّ
لامَعْبُودَبِحَقٍّ فِى الوُجُودِ

Hanya Allah Yang disembah dg sebenarnya
Tiada Yang disembah dengan sebenarnya

اِلا اللهُ المُستَغنِيُ عَنْ كُلِّ مَاسِوَاهُ المُفتَقِرُ إِلَيْهِ كُلُّ مَاعَداه
لامُستَغْنِيًاعَنْ كُلِّ مَاسِوَاهُ وَمُفْتَقِرًا إِلَيْهِ كُلُّ مَاعَداه

Hanya Allah Yang Kaya dari yang selainNya, dan faqir kepadaNya yang selainNya
Tiada Yang Kaya dari yang selainNya, dan faqir kepadaNya yang selainNya

إِلااللهُ الوَاجَبُ الوُجُودِ
لاوَاجِبَ الوُجُودِ

Hanya Allah Yang Wajibul Wujud
Tiada Yang wajib akan wujudnya

إلا اللّهُ المُسْتَحِقُّ لِلعِبَادَةِ بِحَقٍّ
لا مُسْتَحِقًّا لِلعِبَادَةِ بِحَقٍّ

Hanya Allah yang berhak untuk disembah
Tiada Yang mempunyai hak untuk disembah

إلا اللّهُ الخَالِقُ كُلِّ شَيءٍ
لاخَالِقَ

Hanya Allah Yang Menciptakan sekalian makhluk
Tiada Yang Menciptakan sekalian makhluk

إلا اللّهُ الرَّازِقُ كُلِّ شَيءٍ
ﻻ رَازِقَ

Hanya Allah Yang Memberi rizqi bagi setiap makhluk
Tiada Yang Memberi rizqi

إلا اللّهُ المُحْيِى كُلِّ شَيءٍ
ﻻ مُحْيِى

Hanya Allah Yang Menghidupkan
Tiada Yang Menghidupkan

إلا اللّهُ المُمِيْتُ كُلِّ شَيءٍ
ﻻ مُمِيْتَ

Hanya Allah Yang Mematikan
Tiada Yang Mematikan

إلا اللّهُ المُحَرِّكُ كُلِّ شَيءٍ
ﻻ مُحَرِّكَ

Hanya Allah Yang Menggerakkan
Tiada Yang Menggerakkan

إلا اللّهُ المُسَكِّنُ كُلِّ شَيءٍ
ﻻ مُسَكِّنَ

Hanya Allah Yang Mendiamkan
Tiada Yang Mendiamkan

إلا اللّهُ النَّافِعُ لِكُلِّ شَيءٍ
ﻻ نَافِعَ

Hanya Allah Yang Memberi Manfaat
Tiada Yang Memberi Manfaat

إلا اللّهُ الضَّارُّ لِكُلِّ شَيءٍ
ﻻ ضَارَّ

Hanya Allah Yang Memberi Mudharat
Tiada Yang Memberi Mudharat

إلا اللّهُ المُتَصَرِّفُ فِى الوُجُودِ
ﻻ مُتَصَرِّفَ فِى الوُجُودِ

Hanya Allah Yang Melakukan di dalam segala keadaan
Tiada Yang Melakukan di dalam segala keadaan














Telah diketahui bahwa segala yang wajib bagi sekalian Rasul ‘alihimushshalatu wassalam yaitu 4 perkara, dan yang mustahil pada mereka itu 4 perkara, yaitu lawan dari yang wajib. Dan yang harus bagi mereka itu satu perkara. Maka jumlahnya 9 ‘aqaid pada sekalian Rasul. Dan disertakan di sini 4 perkara pada rukun iman:
1.    Percaya pada sekalian Rasul ‘alihimushshalatu wassalam dan bahwasanya Nabi Muhammad adalah Rasul penghabisan dan beliau lebih utama dari sekalian makhluk.
2.    Percaya pada sekalian Malaikat.
3.    Percaya pada semua kabar/berita yang turun dari langit.
4.    Percaya pada hari Qiamat.
Maka jumlahnya 13 ‘aqaid, ini masuk pada kalimah syahadat yang kedua sebagaimana tersebut di bawah ini. Sebab semua itulah diberitakan oleh Rasulullah Saw., maka tiap-tiap yang diberitakan oleh beliau adalah haq/benar:
1.    Shiddiq. Nabi Muhammad dan sekalian Rasul haq/benar perkataannya.
2.    Amanah. Nabi Muhammad dan sekalian Rasul dipercaya dengan sempurna sehingga orang merasa aman terhadapnya.
3.    Tabligh. Nabi Muhammad dan sekalian Rasul telah menyampaikan segala perintah Allah ta’ala.
4.    Fathanah. Nabi Muhammad dan sekalian Rasul sempurna pemahaman dan pengetahuannya.
5.    Mustahil pada sekalian mereka itu lawan empat perkara di atas.
6.    Harus bagi sekalian mereka itu bertingkah laku seperti layaknya manusia yang tiada menjadi kekurangan.
7.    Sekalian Rasul ‘alihimushshalatu wassalam adalah haq/benar.
8.    Nabi Muhammad Saw. penghabisan/penutup para Rasul (Khataman Nabiyyin) dan lebih utama dari sekalian makhluk.
9.    Benar sekalian mereka itu ‘alihimushshalatu wassalam)
10. Benar sekalian kitab yang turun kepada sekalian Rasul.
11. Benar segala kabar tentang hari Qiamat yang telah dikabarkan oleh Rasulullah Saw.

Maka dengan apa yang telah tersebut di dalam kitab ini memadailah untuk mendapatkan yang wajib daripada ilmu tauhid. Adapun yang lebih dari ini daripada kitab-kitab ilmu ushul yang panjang penjabarannya dan yang dalam ibarat/pelajarannya, maka tiada harus untuk mengajarkan yang demikian itu kepada sembarang orang (yang belum baik ilmunya). Dalam kitab Syeikh Ibnu Hajar dikatakan: “Termasuk dosa besar yaitu membebankan kepada orang yang bodoh dan orang-orang yang belum biasa membaca segala ilmu atas memikir pada Dzat Allah ta’ala dan pada ShifatNya dan pada segala ilmu ushuluddin yang orang-orang itu tiada sampai aqalnya untuk menerima mafhumnya, maka ini menjadi menyesatkan mereka, sebab mereka dapat menyangka apa saja tentang Dzat Allah ta’ala atau ShifatNya yang bahwa itu mustahil pada Allah ta’ala, maka dengan yang demikian itulah bisa menjadi kafir atau menjadi ahli bid’ah pada hal ia keliru, suka hatinya dengan sangkaannya itu. Ia menyangka bahwa ia telah mengerti betul-betul, maka bahwa sangkanya itu didapat dari kejahilannya dan dari tiada akalnya.”






[1] Jazim itu ada empat, yaitu: a) Jazim mufaqah pada haq dengan dalil, inilah ma’rifah. b) Jazim mufaqah pada haq tanpa dalil, inilah taqlid shahih (mengikut yang benar tanpa dalil). c) Jazim tiada mufaqah pada haq dengan dalil, inilah jahil markab (kebodohan yang membodohi). d)Jazim tiada mufaqah pada haq tanpa dalil, inilah taqlid bathil (mengikut yang salah tanpa ilmu).

2 comments:

m usman yunus m said...

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABAROKATUH
MOHON MA'AF...DAN MOHON IDZIN MENGCOPY, UNTUK PEALAJARAN SANTRI-SANTRI DI TEMPAT KAMI....
TTD

Alif Fadilah said...

Assalamu alaikum wr.wb, saya izin mengcopy ya buat bekal beribadah, saya ucapkan terimakasih semoga kebaikannya dibalas oleh Allah SWT amiin...